Tampilkan postingan dengan label music concert review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label music concert review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2010

CONCERT THE TING TINGS @ JAVA SOULNATION

photo courtesy of Leonardus Surya

Salah satu artis yang ditunggu-tunggu dalam Jakarta International Java Soulnation Festival kali ini adalah The Ting Tings. Terlambat 45 menit dari jadwal yang ditentukan penampilan pembuka The Ting Tings cukup menghibur hati. Di atas panggung yang sederhana Jules muncul mengenakan kaos pas badan warna putih beraksen ritsluiting hitam lengkap dengan kacamata hitam bingkai putihnya. Intro dari ‘We Walk’ berupa bunyi alunan piano dari keyboard yang dimainkan Jules de Martino sukses membuat penonton bersorak kegirangan. Selama beberapa saat Jules memainkan sendiri instrumen musik. Setelah Jules mempertunjukkan kebolehannya memainkan gitar sambil menggebuk drum. Sebuah atraksi yang cukup mengesankan. Tak lama kemudian Katie White dengan hot pants juga atasan hitam berstocking ungu lengkap dengan topi, muncul dan mengalunlah lagu ‘We Walk’ yang dinamis.


Lewat gebukan drum Jules yang bertenaga, cabikan gitar juga lengkingan Katie akhirnya mengalunlah lagu-lagu lainnya seperti ‘Great DJ’, ‘Be The One’, ‘Traffic Light’ dan ‘Shut Up And Let Me Go’ yang menjadi puncak penampilan mereka malam itu. Diimbuhi dengan tampilan video montage serta lighting yang dinamis, penampilan mereka sanggup membuat seluruh Istora Senayan bergoyang. The Ting Tings meski sedikit memberikan narasi di sela jeda antar lagu, tetap mampu membuat konser yang komunikatif dengan penonton. Katie sendiri sempat mengucapkan salam dalam bahasa Indonesia meski dengan membaca kertas contekan yang sudah disiapkan. The Ting Tings malam itu menampilkan sepuluh lagu. Penampilan Jules benar-benar multi instrumentalis sejati, karena sesekali Jules memainkan dua instrumen sekaligus seperti di awal konser. Jules juga mengisi vokal. Di bagian akhir konser Jules memainkan potongan-potongan notasi reffrein dari beberapa lagu macam ‘Walk This Way’, ‘Ghostbuster’, ‘Another One Bites The Dust’ yang dimedley sebagai intro dari ‘Impacilla Carpisung’. Sebagai penutup konser, The Ting Tings menampilkan ‘That’s Not My Name’ yang segera saja diikuti oleh seisi Istora bernyanyi bersama.


Aksi panggung The Ting Tings memang berjalan dalam tempo yang cepat. Meski baru meluncurkan satu album lagu-lagu alternative dance The Ting Tings mampu membuat penonton setia menonton sampai akhir acara. Jules dan Katie membuat tempo konser berjalan cepat tanpa membuat kita terengah-engah atau jenuh dengan penampilan mereka. Yang mengagumkan meski mereka hanya tampil berdua tetapi musik mereka terdengar begitu lengkap.

CONCERT FRANZ FERDINAND @ PLAYGROUND

photo courtesy of leonardus surya

Pertengahan November lalu di malam Minggu yang panjang, Franz Ferdinand tampil sebagai bagian dari pertunjukan hiburan Playground. Playground merupakan gelaran rutin setiap tahun yang diselenggarakan salah satu kelab hit di Jakarta, Embassy. Diawali sebelumnya oleh DJ Remy Irwan yang menghangatkan suasana dengan musiknya yang bearoma techno dan tech-house. Pukul sebelas malam lewat, Franz Ferdinand mengawali konsernya dengan membawakan komposisi berjudul Michael yang berasal dari album perdana mereka. Dan mengalunlah di udara suara dari Alex Kapranos.

I'm all that you see, you wanna see So come and dance with me Michael So close now, so close now So come and dance with me

Pilihan lagu yang energik untuk menghangatkan penonton yang sudah cukup lama berdiri menanti-nantikan penampilan mereka. Setelah Michael dilanjutkan berturut-turut dengan Turn It On dan This Fire. Digawangi oleh Alex Kapranos pada vokal dan gitar, Bob Hardy pada bass, Nick McCarthy pada keyboard dan gitar serta Paul Thomson sebagai penggebuk drum, Franz Ferdinand mengawali serangkaian tur Tonight di Asia Tenggara dengan tampil perdana di Jakarta dalam Playground kali ini. Didukung dengan panggung yang sederhana Franz Ferdinand meski tidak terlalu komunikatif dengan penonton, tapi tetap mampu membuat mood terjaga selama pertunjukan berlangsung. Alunan musik bernuansa rock, dance dan post punk membuat sebagian penonton ikut bergoyang. Meski nampaknya sebagian penonton kurang mengenali sebagian nomor lagu yang berasal dari album ketiga mereka, namun FF sanggup membuat penonton larut menikmati penampilan mereka.

Franz Ferdinand menampilkan total 17 lagu. Sebagian besar berasal dari album ketiga mereka macam Turn It On, Live Alone dan Can’t Stop Feeling juga yang lumayan ngetop Ulysses. Selain Michael mereka juga menampilkan sejumlah komposisi dari album pertama seperti This Fire, Tell Her Tonight, The Dark of Matinee, Take Me Out dan 40. Mereka hanya menampilkan 3 tembang dari album kedua seperti Outsiders, Do You want to dan Walk Away.

Menarik sekali melihat penampilan Kapranos yang energik sambil memainkan gitarnya. Dipadukan permainan keyboard yang kental dengan sentuhan electro juga gebukan drum yang dinamis dan cabikan gitar meraung membuat penampilan Franz Ferdinand terasa hidup. Pada bagian penutup mereka menampilkan Lucid Dreams. Lagu ini terasa bagai perpisahan yang manis dimana satu per satu personel mulai meninggalkan panggung dengan meninggalkan instrument musik mereka. Diawali dengan sang Kapranos, dilanjutkan dengan McCarthy kemudian Hardy. Sementara Thompson masih asyik bersolo menggebuk drumnya dengan powerful. Hingga akhirnya ia sendiri yang melakukan closure dengan melemparkan kedua stik drum ke arah penonton sebagai tanda berakhirnya konser malam itu. Sungguh sebuah pengalaman yang musikal yang menyenangkan.

Kamis, 15 Oktober 2009

CONCERT CLASSIC CHRISYE

Manakala mentari tua telah berpijar
Manakala bulan nan genit enggan tersenyum
Berkelap kelip tiada terbayang
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan

Seperempat jam menjelang pukul sembilan malam, suara Wisanggeni mulai mengalunkan ‘Lilin-Lilin Kecil’ setelah diawali oleh opening act oleh Twilite Orchestra. Dalam gemilang cahaya sosok mungil Wisanggeni sukses membuat aura Chrisye hadir dalam konser Classic Chrisye. Senin malam, 12 Oktober lalu Addie MS dan Twilite Orchestra menggelar konser musik Classic Chrisye sebagai apresiasi terhadap karya-karya Chrisye yang abadi.

Di atas panggung yang lebar dengan dekorasi yang bertema perpaduan antara motif art deco dengan sentuhan ala Jawa, konser kali ini terbagi atas tiga sesi. Sesi pertama putih atau kelahiran. Dalam sesi ini Wisanggeni, Memes, Sherina, Utha Likumahua berpakaian serba putih. Memes membawakan ‘Chopin Larung’ yang memorable dengan lumayan baik. Sementara Sherina-lah yang mencuri perhatian dengan kemampuan vokal serta interpretasinya yang memukau dalam mempresentasikan lagu ‘Merepih Alam’. Sayangnya Utha terdengar sedikit kewalahan dalam membawakan ‘Serasa’. Untuk seorang Utha penampilannya agak di bawah ekspektasi saya. Yang juga disayangkan video montage tentang Chrisye dari Eros Djarot yang berhalangan hadir tidak dapat ditampilkan dengan suara baik.


Sesi berikutnya adalah sesi warna warni yang menyimbolkan keceriaan hidup. Pada sesi ini penampilan dari d’Cinnamon benar-benar membuat selingan segar di tengah penampilan full orchestra sepanjang konser. Grup ini tampil membawakan lagu legendaris ‘Galih & Ratna’ dengan gaya akustik folk. Benar-benar berbeda. Tampil dengan kostum yang tak seragam, tanpa sentuhan blink-blink, membuat penampilan d’Cinnamon justru makin memikat. Penampilan Vina juga termasuk mempesona. Vina berhasil mempresentasikan lagu ‘Cinta’ yang ditulis almarhum Chrisye untuknya. Sementara itu penampilan Oddie Agam dalam ‘Anak Sekolah’ ditunjang permainan lampu yang dinamis berhasil membuat suasana menjadi lebih hidup.

Malam itu tingkah dan celotehan lucu Sarah Sechan sebagai pembawa acara sukses menghangatkan suasana di antara penonton.

Sesi ketiga adalah hitam. Di sini penampilan artis dibungkus dalam kostum berwarna hitam. Dalam sesi ini Yockie Suryoprayogo menceritakan tentang kenangannya bersama Chrisye. Dilanjutkan dengan kolaborasi antara Yockie Suryoprayogo, Armand Maulana dan Dewa Budjana mebawakan ‘Sendiri’. Penampilan yang sederhana dengan musik yang ‘rumit’ justru membuat Armand tampil memukau malam itu. Dilanjutkan dengan duet Armand dan Vina, yang sayangnya tidak terlalu indah karena Vina sempat lupa lirik akibat terbawa emosi mengenang almarhum Chrisye. Sementara Ahmad Albar tampil agak kaku dengan para penari pengiringnya membawakan ‘Anak Jalanan’. Afgan yang muncul setelah Ahmad Albar membawakan ‘Sabda Alam’ lebih menarik dibandingkan pada penampilan dalam ‘Kenang-kenangan’ pada sesi pertama. Meski untuk lagu berikutnya ‘Juwita’ yang lebih upbeat, Afgan kurang bisa mempresentasikannya dengan menarik.


Di tengah berbagai kekurangan seperti Slamet Rahardjo yang batal tampil karena sakit, serta Eros Djarot karena kesibukannya, konser ini tetaplah menarik diikuti. Meski susunan lagu dan pengisi acara membuat konser ini justru terasa anti klimaks. Mungkin akan terasa lebih gregetnya seandainya saja penampilan Vina atau Armand ditempatkan di akhir acara sebagai puncak.


courtesy of : SoundUp magazine

Senin, 12 Oktober 2009

MELIPUT LAGI

Semalam meliput konser Classic Chrisye. Meski ngaret ya, untungnya layak untuk dinantikan. As a newbie agak kagok dalam meliput bersama wartawan2 dari big media company lainnya. A lil bit intimidated. Tapi senang juga akhirnya bisa bertemu muka dengan Dipa Mulya, reporter Female yang dulu sering banget gw dengar suaranya di radio. Sempat juga lihat managing editor salah satu majalah musik ternama di Indonesia. Ada juga teman FB sempat juga sih lihat di MP tapi ya kenal2 gitu aja jadi dia nggak ngenalin gw hehehehe it's okay. Press conference ternyata setelah selesai konser, ngantuk bo. Artis ternyata juga banyak yang nonton di tribun, bukan di VIP. Kemarin dengan dodolnya seperti orang bego nyariin teman sesama liputan dari sound up, Surya. Pas jalan gw sambil smsan jadi gak ngeh ada reporter dan VJ dari sepertinya sih Djarum Black gitu apa dari . Jadi ya pastilah terlihat seperti orang dungu. Aseli gw gak nyadar blas. Untung aja gw gak nabrak tuh VJnya yang lagi cuap2. Soalnya gw lihat tuh fotografer temen gw di belakang cameraman mereka. Dodolnya gw gak sadar itu lampu sorot yang terang itu dari camera mereka. Gw sama sekali gak mikir kalo sedang berlangsung syuting. Mudah-mudahan sih kena editing. Malu dong, e-librity dalam pose nggak banget. Hahahahahahaha.
Setelah selesai acara, foto bareng sama D'cinnamons. Aseli ternyata ramah banget, soalnya sempat nonton dulu dan baca ttg vokalisnya kok terkesan kaku hehehehe maaf ya. Ternyata salah duga. Over all kemarin penampilan D'cinnamons itu memang fave gw banget. Bawain lagu Chrisye dengan sentuhan akustik folk. Keren deh. Suka. Ya berasa beda aja secara yang lain kan sebagian besar full orkestra. Kemarin yang juga mencuri perhatian adalah Armand Maulana. Yah dengan gaya bernyanyinya yang khas ngeden memang outstanding. Padahal permainan musiknya juga gak sederhana. Tapi memang cuma Yockie Suryaproyogo dan Budjana yang mengiringi. Jadi benar-benar sederhana tapi membuat Armand tampil memukau.
Entar deh gw bikin tulisan reviewnya. Cek aja di Sound Up.

Jumat, 09 Oktober 2009

LIPUTAN KONSER AIR SUPPLY

Even the nights are better
Now that we’re here together

Diawali dengan lagu ‘Even The Nights Are Better’, Air Supply membuka konsernya setengah jam lepas pukul delapan malam. Untuk artis seusia mereka duo senior ini masih nampak berenergi. Meski gaya bergoyangnya masih terasa jadul, tapi semangat dan karismanya cukup bersinar terang malam itu.

Air Supply, duo yang digawangi oleh Russel Hitchcock dan Graham Russell ini telah lebih dari tiga dekade menapaki dunia musik sejak 1975. Mereka telah menghasilkan 18 studio album dan 17 single hit. Lagu-lagu mereka telah menjadi lagu yang klasik dan abadi. Mulai dari pop diva macam Celine Dion hingga country diva Carrie Underwood, termasuk boyband Westlife pernah membawakan lagu-lagu Air Supply, baik dalam album atau penampilan live mereka.
Setelah ‘Even The Nights Are Better’, Russel yang bersetelan jas biru celana hitam, membawakan pula hit-hit mereka yang lain seperti‘Just As I Am’, ‘Goodbye’, ‘Lost In Love’.

Pada penampilan ke-15 kalinya di Indonesia kali ini, duo ini nampaknya memang masih memiliki magnet yang kuat lewat lagu-lagu soft rocknya yang memorable. Penonton yang datang meski sebagian besar berusia mendekati atau lewat setengah abad, toh banyak juga penonton yang tergolong dewasa muda. Dan hebatnya yang muda pun khatam sebagian besar lirik lagu-lagu hit Air Supply.

Pada konser dimana Air Supply dibantu dengan 4 additional player, mereka tak lupa memberikan perhatian pada korban gempa di Sumatera Barat. Graham memberikan kata sambutan sebelum muncul video montage tentang liputan korban gempa. Pada kesempatan amal tersebut Air Supply menyumbangkan sebuah gitar yang telah ditandatangi oleh Graham dan Russel untuk dilelang pada situs www.tommypratama.com.

Vokal tenor Russel Hitchcock sendiri malam itu cukup membuat decak kagum, mengingat usianya yang sudah 6 dekade. Meski pada tembang ‘The Power Of Love’ terasa diturunkan nada dasarnya serta lebih minim overtone, setidaknya Russel masih terdengar prima pada nada-nada panjang pada setengah bagian pertama konser. Pada lagu ke-13 yang menjadi puncak penampilannya malam itu sebenarnya, ‘Making Love Out Of Nothing At All’, Russel terdengar sedikit kewalahan. Lagu tersebut memang tidak mudah dibawakan bahkan bagi penyanyi yang muda sekalipun, jadi secara keseluruhan Russel cukup memuaskan penggemarnya.

Duo ini cukup komunikatif dengan penonton. Mereka bahkan muncul di tengah penonton dan berkeliling hall menyapa para penonton, membuat konser terasa lebih hangat dan akrab. Saat solo membawakan lagu baru yang akan ditampilkan dalam album teranyar mereka, Graham menceritakan latar belakang lagu itu tercipta. Graham mengatakan lagu yang berjudul ‘A Little Bit More’ itu terinspirasi dari seorang sahabat wanita yang telah kehilangan suaminya setelah pesta ulang tahun pernikahan. Saat Graham bertanya apa yang ingin disampaikan lewat lagu yang akan diciptakannya. Sang sahabat wanita menjawab ia hanya ingin sedikit waktu lagi bersama sang suami.

Graham membawakan lagu ini dengan sedikit sentuhan folk cuntry. Malam itu memang pada beberapa bagian dimana Graham solo, ia mencoba untuk memberikan sentuhan folk country.
Satu tindakan lain yang juga menyentuh para penggemar Air Supply adalah saat Graham meminta para penonton di kelas festival yang berada di bagian belakang hall untuk maju ke depan panggung. Memang itu dilakukan saat-saat terakhir, saat lagu penutup akan berkumandang. Malam itu dengan aksi panggung yang memikat antara Graham dan drummer, vocal Russell yang melengking ‘All Out Of Love’ menjadi penutup konser yang manis.

I'm all out of love, what am I without you
I can't be too late to say I was so wrong

Untuk foto2 lihat di majalah Sound Up edisi Oktober.

Minggu, 26 Juli 2009

JASON MRAZ ON JAVA JAZZ FESTIVAL



Pada Jumat, 6 Maret 2009 ini saya berkesempatan menyaksikan konser Jason Mraz yang diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian acara special show pada Java Jazz Festival. Sebuah kesempatan berharga dimana untuk event Java Jazz, Jason Mraz bersedia tampil dua kali yaitu pada Sabtu, 7 Maret 2009 juga karena tingginya permintaan menonton pertunjukkan Jason. Seperti diketahui tiket Jason Mraz pada show perdana, Jumat 6 Maret ini telah habis terjual hanya dalam tempo 2 minggu setelah penjualan tiket dibuka. Dan rupanya peminat pertunjukkan Jason Mraz ini juga datang dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang notabene lebih dulu disinggahinya dalam rangkaian promo tur album terbarunya, ‘We Sing, We Dance, We Steal Things’.

Dan memang menyaksikan pertunjukan JM ini, kita dapat menyaksikan bagaimana sebenarnya talenta seorang Jason Mraz.

Dibuka dengan penampilan Mike Idol menyanyikan Indonesia Raya menandakan tepat 18.45 dimulainya rangkaian penampilan Jason Mraz. Kemudian tepat pada pukul 18.51 Jason Mraz muncul dengan membawakan lagu Make It Mine dan dilanjutkan dengan The Remedy. Lewat komposisi The Remedy, JM mampu mempertunjukkan kemampuan nge-rap dengan melodinya yang mumpuni terutama dalam hal mencuri napas. Sesuatu yang memang telah menjadi karakternya yang kuat jika kita memperhatikan albumnya sejak ‘Waiting My Rocket To Come’ hingga album terbarunya.

Setelah itu serangkaian lagu diantarkan dengan tempo yang cukup cepat pada pergantian antar lagunya. Memang sedikit terasa seakan JM kurang komunikatif dengan penonton. Tetapi pada kenyataannya JM justru mampu berkomunikasi dengan penonton lewat emosi-emosi yang disampaikan melalui lagu-lagunya. Pada komposisi ‘You and I Both’, Jason dengan smart menyelipkan sampling ‘Wonderwall’ dari Oasis pada bagian bridge lagu. Pada ‘Lucky’ dibawakan secara manis berduet dengan Dira Yulianti, salah seorang penyanyi jazz langganan berduet dengan bintang2 jazz international di Java Jazz. Selain itu JM juga menampilkan lagu ‘The Dynamo Of Volition’.

Dengan penampilan solo trumpet atau solo petikan gitar dari Mraz, Mraz berhasil membangkitkan emosi seluruh penonton di arena konser. Nuansa latin pada ‘No Stopping Us’ atau ballad yang kuat seperti pada ‘A Beautiful Mess’ sukses membuat saya merinding. Dengan aransemen yang sederhana tetapi indah, dan penjiwaan yang kuat, JM berhasil memukau saya.

Komposisi menjadi ‘I’m Yours’ menjadi puncak penampilan JM malam itu. Sebuah momen yang sangat menyenangkan dimana penonton bernyanyi bersama JM dengan semangat yang tinggi. Tetapi yang menjadi penutup pertunjukan JM tersebut adalah jam session yang sangat memukau antara pemain saxophonenya dan dilanjutkan dengan penutup yang menawan, Butterfly.

Dalam pertunjukan kali ini dari sekitar 12 lagu yang dibawakan Mraz cukup merata antara lagu dari album pertama dan kedua, Mr. A-Z, meski porsi dari album ketiga tetap sedikit lebih besar.

JM dalam pergelarannya kali ini didukung oleh 7 orang musisi mulai dari perkusi, keyboard, bass, drum dan brass section yang terdiri dari trumpet, trombone dan saxophone. Saat penutup JM dengan cerdas membagikan foto-foto Polaroid dari musisi pendukungnya yang dipotret JM sendiri saat mereka sedang beraksi.

Memang menyaksikan konser Jason Mraz ini seperti menyaksikan sebuah pertunjukkan sebuah komposisi pop yang diramu dengan berbagai genre musik seperti latin, rock, hawaiian, reggae, jazzy tunes dan rap dalam sebuah resep yang pas. Jason Mraz dengan kekayaan lagu-lagunya, musik yang cerdas, lirik yang komunikatif dan improvisasi yang brillian berhasil menyuguhkan pertunjukkan yang memikat. Sederhana sekaligus sophisticated.

Review ini dimuat di www.creativedisc.com.



PS: terima kasih pada panitia JJF yang sigap menangani kecelakaan pada salah satu kontributor Rio Ichsan.
Photo by: Joe Ari Darius Shasta