Baru-baru ini seorang teman kontributor musik mengeluhkan seorang fanatik musik yang merendahkan selera musik kami para kontributor yang cenderung pada aliran musik yang mainstream macam Lady Gaga, Taylor Swift, dkk.
Kemudian satu dua minggu yang lalu juga saat kami mempublikasikan daftar album terbaik international yang beredar di Indonesia versi kami dari creativedisc.com, dan serta merta mendapatkan komentar yang merendahkan. Katanya maaf albumnya bisa didapatkan secara pasaran dan beredar luas bajakannya di Indonesia, lebih bagus listnya Rolling Stones.
So what gitu lho? Langsung aja gw jawab selera kami independen tidak terpengaruh oleh Rolling Stones sekalipun.
Yaiyalah hari gini, era internet, keterbukaan, demokratisasi, ada major ada indie. Jadi ya memang sekarang eranya seperti itu. Percuma saja membandingkan keduanya karena memang soal musik adalah penafsiran dan selera. Tidak ada absolut untuk soal seni. Semua tergantung individu. Kalau dulu mungkin majalah2 musik mapan macam Rolling Stones bisa dengan mudah mendikte pendengar musik, sekarang blogger2 musik pun menjadi referensi. Major dan indie berjalan bersama di jalurnya masing-masing. Kadang sependapat, kadang berbeda pendapat.
Kadang yang artis independen sering merendahkan yang artis mainstream karena dianggap tidak bermutu secara musikal. Tapi menurut gw sendiri, tidak mudah untuk menciptakan sebuah lagu, mengemasnya menjadi sebuah hit yang bisa meledak, laris manis dan melejitkan artis musisinya sendiri. Jadi sebenarnya dimensi untuk mengukur musik itu tidak hanya dilihat hanya bagus secara kualitas, ada poin lain yang bisa digali dari sebuah karya musik. Tapi tentu saja alangkah bagusnya jika bagus secara kualitas juga bagus secara komersial. Nah untuk terjadi keseimbangan seperti itu memang tidaklah mudah.
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 Desember 2009
Kamis, 15 Oktober 2009
DANCING QUEEN & D'Cinamons

Senin kemarin nonton Classic Chrisye eh ada D'cinnamons hihihihi. Biasanya ditawarin foto bareng artis gak mau kemarin langsung memaksa fotografer gw utk fotoin gw bersama mereka hahahahaha.
Rabu kemarin dapat tiket dari Alberthiene Endah untuk nonton Dancing Queen di Istora. Meski akhirnya gw gak pakai tiket gw krn ada tugas liputan jadi gw pakai ID Press. Akhirnya tiket gw kasi ke teman gw. Agak menyesal juga sih secara berpisah dari teman2 lainnya. Dan sekali lagi gw make a fashion statement hahahahaha. Secara ya di kalangan wartawan itu rupanya ada kesepakatan tidak tertulis utk mengenakan hitam, nggak peduli ada yg ngondek juga. Dan gw doang yang pakai pink tua. Selesai sudah. Hahahahaha so gay hihihi.
Nggak kebayang kan nonton acara konser penuh bebancian tukang silet. Aseli selama 3/4 jam pertama tuh gw sudah mau mati kebosanan. Mana sound sistemnya buruk hingga suara yang keluar terdengar kasar.
Dan yg agak mengganggu sih kenapa koreografinya agak jadul ya, so Guruh-esque. Bosan aja dengan penari-penari membawa bendera ala marching band. Dan warna-warna benderanya itu sooo gay. Hehehehe duh gimana ya bukannya gak mendukung pergerakan gay.
Cuma bosan aja lihat ABBA itu dikonotasikan sbg gay. I need something fresh and new. Buat apa nonton konser yang cuma bergaya 70s, 80s dengan kostum2 ala drag queen? Sudah kebanyakan. Bosan.
Sekarang kayaknya jaman hip hop dance. Jadi kalo gak bisa mengikuti perkembangan jaman ya jangan marah kalo dikritik. Nggak bisa memadukan antara gaya hiphop dance dengan gaya klasik disco ABBA ya itu sih berarti kurang eksplorasi.
Night is young and the musics high
With a bit of rock music, everything is fine
Youre in the mood for a dance
And when you get the chance...
You are the dancing queen, young and sweet, only seventeen
Dancing queen, feel the beat from the tambourine
Dancing Queen - ABBA
With a bit of rock music, everything is fine
Youre in the mood for a dance
And when you get the chance...
You are the dancing queen, young and sweet, only seventeen
Dancing queen, feel the beat from the tambourine
Dancing Queen - ABBA
Label:
abba,
alberthiene endah,
andi rianto,
curhat,
d'cinamons,
dancing queen,
magenta orchestra,
opini
Minggu, 05 April 2009
EVOLUSI WARNA MUSIK ARTIS DUNIA



photos courtesy of imaxenes.com project80s, www.sportcartoons.co.uk,
Selama hampir tiga dekade Madonna menguasai dunia musik internasional. Orang mengenang Madonna sejak jaman ia berpakaian dengan gaya punk atau dekonstruktif di awal tahun 80an dengan musik pop dance. Hingga saat ini dimana Madonna bergaya lebih membumi tetapi tetap sexy dengan aliran musik dance hip hop sentuhan produser bertangan dingin Timbaland. Apa yang membuat Madonna begitu eksis di tengah-tengah arena musik yang begitu penuh persaingan? Evolusi musik yang diusungnya.
Madonna selalu merubah aliran musiknya. Dari pop dance sejak awal decade 80an dengan lagu Holiday kemudian di akhir dekade 80an dia menawarkan Laisla Bonita yang bernuansa Latin. Kemudian Madonna juga menawarkan musik bernuansa balada bekerja sama dengan Babyface lewat lagu Take A Bow. Setelah itu Madonna juga mengulang sukses kembali dengan album Ray of Light yang mengusung kembali nuansa musik dance yang menjadi akarnya. Yang kemudian diperkokohnya dengan kesuksesan album Music tahun 2000. Kemudian setelah gagal dalam penjualan album American Life ditebus dengan suksesnya album Confessions on a Dance Floor.
Madonna selalu menawarkan paket lengkap. Saya rasa di sinilah letak keunggulan artis wanita. Madonna bukan hanya selalu memberikan sentuhan baru pada musiknya, tapi juga rutin mengubah gaya penampilannya. Dan meskipun suaranya tidak semerdu Whitney atau dengan rentang nada yang lebar seperti Mariah Carey, Madonna selalu mengatakan dia menyanyi karena ada yang ingin disampaikannya kepada dunia. Sejak lagu Like a Virgin, Like a Prayer yang sangat kontroversial krn kritikannya terhadap peranan Vatikan dalam gereja Katholik. Kemudian disusul dengan lagu Material Girl. Dan yang cukup banyak mendapat perhatian lewat album American Life yang menurut Madonna merupakan kritik terhadap apa yang dilakukan Amerika di Irak. Kemudian lewat album terbarunya Hard Candy dan single 4 minutes Madonna berusaha mengingatkan apa yang bisa kita lakukan untuk dunia.
Seorang teman yang juga pemain band lewat chatting beberapa waktu lalu bertanya apa berevolusi berarti mengubah aliran musik? Saat itu saya tidak bisa menjelaskan secara runtut. Tapi saya tahu apa yang dilakukan artis sekelas Madonna itu bisa dikenali dengan mudah. Bukan hanya karena nama besarnya. Tetapi karena akar musiknya, musik dansa. Jadi kalau Anda bercita-cita menjadi artis musik kenali akar musik Anda. Berevolusi dengan gaya musik bukan berarti mengubah aliran musik yang menjadi jati diri dan akar Anda. Tetapi dengan menambahkan sentuhan aliran musik lainnya kepada akar musik Anda. Saya ibaratkan semacam gaya berbusana. Anda bisa saja mengenakan tshirt putih dan blue jeans sebagai identitas Anda. Anda menambahkan jaket kulit hitam dan voila Anda terlihat seperti seorang rocker. Ganti dengan jacket bergaya sporty dan Anda akan terlihat seperti olahragawan. Ganti dengan jas dan Anda akan terlihat seperti seorang professional muda. Apa kemudian white shirt dan blue jeans itu lenyap dari pandangan mata? Tidak, karena justru menyatu dengan penampilan keseluruhan. Semua itu hanya dengan menambahkan sedikit sentuhan yang berbeda pada white shirt dan blue jeans sebagai dasarnya.
Begitu juga halnya dengan karya musik. Menambahkan sentuhan yang berbeda bukan berarti merubah total aliran musik. Tidak perlu mengorbankan idealisme musik. Tapi menyesuaikan diri dengan apa yang sedang trend supaya apa yang hendak disampaikan lewat musik bisa sampai ke para penikmat musik dan didengarkan. Pada akhirnya kan seorang musisi ingin karyanya didengar, kalau tidak laku jangan salahkan pasar.
Kamis, 26 Maret 2009
CREDIT aka Acknowledgment
| Di sini bukan berarti credit-credit buat belanja ya. Tapi credit dalam pengertian penghargaan terhadap seseorang, yah mungkin lebih tepatnya sih acknowledgement begitu.Meminta tolong seseorang untuk membantu kita, sudah selayaknya kalau kita berterima kasih. Baru-baru ini seorang pinoy mengungkapkan rasa terima kasihnya karena gw selalu say thanks utk setiap postingan musik2nya yang selalu up to date. Senang rasanya krn ternyata ungkapan terima kasih gw karena mendapatkan musik2 terbaru untuk karir menulis musik gw justru mendapatkan balasan yg besar artinya buat gw. Dan ternyata apa yang gw lakukan ini, sedikit banyak mulai membuahkan hasil berupa apresiasi dari kontak2 gw di belahan bumi lain. Memberi dorongan semangat dan penghiburan bagi teman2 yg jauh di dunia maya yang sedang menghadapi berbagai masalah pun ternyata bisa memberikan arti yang mendalam. Setidaknya dari afeksi yg ditimbulkan, reaksi baliknya yang positif sedikit banyak memberikan arti baru dalam hidup gw. Gw tulus dan menjadi diri sendiri apa adanya, mereka menghargai. Gw tulus memberikan perhatian, mereka mengapresiasi balik juga. My life is becoming more meaningfull. Seandainya saja Nick tahu apa yang harus dilakukannya dengan hidupnya, berbuat lebih daripada sekedar bermain game online dan kemudian bunuh diri. Mungkin hingga hari ini dia masih akan hidup. But I will run until my feet no longer run no more And I will kiss until my lips no longer feel no more And I will love until my heart it aches And I will love until my heart it breaks And I will love until there's nothing more to live for Run - Amy Macdonald |
Sabtu, 14 Maret 2009
DELUXE EDITION
Awalnya sih mulai jadi kolektor sejak masih SMP kelas 1. Waktu itu kaset pertama yang saya beli adalah album kedua Whitney Houston, yang berjudul Whitney. Dan sejak saat itu mulailah perburuan saya terhadap koleksi2 album musik dari musisi dunia yang menjadi fave saya. Dari Barbra Streisand sampai Barry White. Dari Dionne Warwick sampai Celine Dion. Yah namanya selera memang tidak terbatas waktu dan genre. Meski awalnya selera saya hanya melibatkan musisi yang masuk kategori vokalis, biduan dg kekuatan teknik vokal. Tapi lama kelama2an selera saya berubah mulai meluas ke arah musisi/vokalis. Yah sejak tahu nikmatnya mendengarkan suara musisi yang bisa menciptakan lagu sendiri tanpa vokal yang powerful tapi memiliki musikalitas yang tinggi. Cakrawala musik saya mulai meluas dan berubah.
Dulu album-album yang dirilis sih, paling adanya album studio, album rekaman live, dan album the best of.
Tapi di Indonesia sejak tahun 2004 - 2007 itu marak yang namanya album repackage. Entah maxudnya mungkin untuk meningkatkan penjualan. Sayangnya saya jarang tertarik membeli album karya musisi Indonesia. Mungkin karena mudah dimengerti, sementara untuk musisi luar kan mereka menggunakan bahasa Inggris, jadi lebih sulit dimengerti bahasanya, lebih menarik untuk dipelajari karena kadang2 apa yang tertulis mereka menggunakan ungkapan2 yang memiliki makna berbeda dengan rangkaian kalimatnya. Jadi memang lebih misterius saja karya musik musisi luar ketimbang musisi Indonesia.
Nah kalau di Indonesia ada istilah repackage, album musisi luar malah ada istilah Deluxe Edition. Biasanya sih album begini ada bonus track baru, atau rekaman live performance atau bahkan video music.
Yang bikin bete adalah kadang saya sudah beli CD karya musisi tersebut, ternyata beberapa bulan kemudian labelnya merilis versi Deluxe Edition-nya. Tentu bikin keki kan? Akhirnya saya karena menggemari artisnya juga penasaran ingin memiliki membeli lagi versi Deluxe Edition-nya. Koleksi lama saya akhirnya saya lungsurkan buat teman-teman yang memang penggemar musik, tapi tidak begitu beruntung bisa sering2 membeli CD seperti saya.
Entahlah mungkin itu adalah strategi dagang dari label-label besar di dunia dalam mengantisipasi penurunan penjualan album fisik artis2 dunia yang sampai 70% sejak 2001 hingga saat ini.
Yah buat saya yang penggemar musik ini, mau sekarang ada MP3 bajakan mah nggak akan pengaruh ke saya. Bukan sombong, tapi saya memang lebih suka beli aselinya karena saya menganggap membeli album musik secara fisik itu bagaikan membeli karya seni dengan harga lumayan terjangkau dari seniman dunia.
Saya suka membaca booklet covernya yang berisi lirik, credit tittle memuat musisi yang terlibat di dalamnya, bahkan sampai acknowledgment artis tersebut kepada mereka semua yang terlibat.
Buat saya membeli musik bukan hanya enak didengarkan, tapi juga mengerti konsep bermusiknya, sampai jenis alat musik yang mereka gunakan, choir dan backing vocalnya, genre musiknya. Itu menarik buat saya. Maklumlah saya designer, sejak kuliah selalu ditanya konsepnya apa. Jadi kebiasaan mengulik konsep itu terbawa hingga sekarang. Dan memang menarik sih.
Dulu album-album yang dirilis sih, paling adanya album studio, album rekaman live, dan album the best of.
Tapi di Indonesia sejak tahun 2004 - 2007 itu marak yang namanya album repackage. Entah maxudnya mungkin untuk meningkatkan penjualan. Sayangnya saya jarang tertarik membeli album karya musisi Indonesia. Mungkin karena mudah dimengerti, sementara untuk musisi luar kan mereka menggunakan bahasa Inggris, jadi lebih sulit dimengerti bahasanya, lebih menarik untuk dipelajari karena kadang2 apa yang tertulis mereka menggunakan ungkapan2 yang memiliki makna berbeda dengan rangkaian kalimatnya. Jadi memang lebih misterius saja karya musik musisi luar ketimbang musisi Indonesia.
Nah kalau di Indonesia ada istilah repackage, album musisi luar malah ada istilah Deluxe Edition. Biasanya sih album begini ada bonus track baru, atau rekaman live performance atau bahkan video music.
Yang bikin bete adalah kadang saya sudah beli CD karya musisi tersebut, ternyata beberapa bulan kemudian labelnya merilis versi Deluxe Edition-nya. Tentu bikin keki kan? Akhirnya saya karena menggemari artisnya juga penasaran ingin memiliki membeli lagi versi Deluxe Edition-nya. Koleksi lama saya akhirnya saya lungsurkan buat teman-teman yang memang penggemar musik, tapi tidak begitu beruntung bisa sering2 membeli CD seperti saya.
Entahlah mungkin itu adalah strategi dagang dari label-label besar di dunia dalam mengantisipasi penurunan penjualan album fisik artis2 dunia yang sampai 70% sejak 2001 hingga saat ini.
Yah buat saya yang penggemar musik ini, mau sekarang ada MP3 bajakan mah nggak akan pengaruh ke saya. Bukan sombong, tapi saya memang lebih suka beli aselinya karena saya menganggap membeli album musik secara fisik itu bagaikan membeli karya seni dengan harga lumayan terjangkau dari seniman dunia.
Saya suka membaca booklet covernya yang berisi lirik, credit tittle memuat musisi yang terlibat di dalamnya, bahkan sampai acknowledgment artis tersebut kepada mereka semua yang terlibat.
Buat saya membeli musik bukan hanya enak didengarkan, tapi juga mengerti konsep bermusiknya, sampai jenis alat musik yang mereka gunakan, choir dan backing vocalnya, genre musiknya. Itu menarik buat saya. Maklumlah saya designer, sejak kuliah selalu ditanya konsepnya apa. Jadi kebiasaan mengulik konsep itu terbawa hingga sekarang. Dan memang menarik sih.
cause we are living in a material world
And I am a material girl
You know that we are living in a material world
And I am a material girl
Material Girl - Madonna
And I am a material girl
You know that we are living in a material world
And I am a material girl
Material Girl - Madonna
Langganan:
Postingan (Atom)
