Tampilkan postingan dengan label music review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label music review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2010

Album of The Day: Maxwell – BLACKsummers’night


Suatu sore dua kontributor Creativedisc di instant messenger sedang bergosip tentang Maxwell. Berikut bincang-bincang mereka.

Ai.2.0 : Tim, siapa sih Maxwell? Kedengarannya enggak asing deh?!

T.M..: Ai, Maxwell ini adalah salah satu penyanyi, rasanya sih nggak tepat kalau hanya disebut penyanyi. Lebih tepatnya divo R&B-soul asal Amrik yang paling ditunggu-tunggu kiprahnya. Orang lebih mengenalnya sebagai penyanyi yang membawakan lagu ‘Whenever Wherever Whatever’ di tahun 1999. Di Amerika sendiri namanya mulai terangkat di kalangan black music scene sejak single kedua album perdananya yang berjudul ‘Ascencion (Don’t Ever Wonder)’ dirilis di tahun 1994. Maxwell telah meraih beberapa kali nominasi Grammy. Orang akan selalu mengharapkan musik R&B Soul yang bergizi dari setiap karya musik yang dihasilkannya.

Ai.2.0 : Ini album keberapanya? Dan apa yang dia kasih ke kita di album ini?

T.M.: Album ‘BLACKsummers’night’ ini album keempat dari Maxwell. Album pertama sejak album terakhirnya di tahun 2001 yang berjudul ‘Now’. Menurut penyanyi berambut cepak ini dalam situs Myspace-nya, album ‘BLACKsummers’night’ ini adalah album pertama dari trilogy album dengan judul ‘blacksummers’night’. Maxwell sendiri di album ini terasa seperti sedang bernyanyi dalam sebuah pesta yang penuh dengan musik-musik chill out. Maxwell mempersembahkan sebuah pengalaman musical yang menarik dengan lagu-lagu soul R&B yang nikmat. Coba dengarkan track ketiga yang ‘Pretty Wings’ yang mempunyai intro alunan gamelan. Nggak kebayang kan gamelan bisa dipadukan dalam sebuah komposisi soul R&B. Disitulah jeniusnya Maxwell.


Ai.2.0 : Kalau aku suruh kau milih satu lagu yang aku WAJIB DENGAR, lagu mana yang kau pilihkan untukku?

T.M.: Ai, rasanya aku tidak bisa hanya memilihkan satu lagu saja dari Maxwell. Komposisi 9 lagu di album ini terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Setiap lagu mempunyai nuansanya masing-masing hingga membuat album ini terasa dinamis. Tetapi jika Ai memang ingin menikmati satu lagu yang merupakan representasi dari album ini, ‘Pretty Wings’ adalah jawabannya.


Ai.2.0 : Kalau lagu yang naik daun ada? Yang agak2 kurang enak didengar gitu lah.
T.M.: Menurutku sih ya semua lagu di album ini kupinggenic tapi tidak standar. Coba dengarkan sealbum dan Maxwell akan membawa kita chill out dalam sebuah lounge party yang hip. Maxwell ini musiknya bisa dikatakan gabungan dari musik para musisi yang menjadi inspirasinya, seperti Marvin Gaye, Prince, Stevie Wonder dan Sade.


Ai.2.0 : Siapa2 aja sih orang2 yang ikutan di album ini? Ada nama yang enggak asing ku dengar ga?

T.M.: Di album ini Maxwell bisa dikatakan mengambil peranan penuh sebagai produser. Maxwell menggunakan nama produser Musze.


Ai.2.0 : Menurutmu, peluang dia untuk sukses di saat sekarang ini gimana? Dan siapa saingan terbesarnya?
T.M.: Hmm menurutku Maxwell muncul di saat yang tepat saat ini. Saat dimana khalayak menanti-nantikan kiprahnya sekaligus mulai jenuh dengan Ne-Yo yang mendominasi dimana-mana. Saingan terbesar Maxwell masih Ne-Yo yang juga sangat berbakat.

Ai.2.0 : Terakhir neh. Kasih dulu satu kalimat yang bisa kita jadikan label untuk album Maxwell yang satu ini.
T.M.: Les must de Maxwell. Harus dimiliki!

Track List:

1. Bad Habits

2. Cold

3. Pretty Wings

4. Help Somebody

5. Stop the World
6. Love You

7. Fistful of Tears

8. Playing Possum
9. Phoenix Rise

Rabu, 20 Januari 2010

Review: Five For Fighting – Slice


Penantian selama 3 tahun tidaklah sia-sia, John Ondrasik atau yang lebih ngepop dengan nama Five For Fighting kembali dengan merilis albumnya yang ke-5. Tetap konsisten dengan warna rock pianonya. Lagu-lagu Ondrasik memang senantiasa kupinggenic. Sayangnya begitu konsisten dengan warna musiknya, album ini terasa kurang eksplorasi secara musikal. Mungkin akan terasa monoton bagi sebagian penikmat musik. Meski bagi penggemarnya tentu hal ini tidak akan menjadi masalah. Untungnya Ondrasik memiliki kekuatan dalam lirik yang menyentuh, melodi piano yang membius juga warna suara yang khas, terutama pada falsettonya. ‘Hope’ menjadi favorit saya yang pertama. Intro dengan iringan piano terasa bagai lagu gerejawi. Hingga kemudian berpadu dengan strings section dan di bagian akhir diimbuhi sentuhan banjo. Terdengar begitu memikat. Liriknya yang indah juga membangkitkan semangat.
When life's got you down and you can't make a sound Cause love has forsaken you When you burning on fire but have no desire to put out the flames in You gotta have hope, you gotta have something there's always a reason to break Hope, cause nothing less will save the day
Ondrasik senantiasa kental dengan nuansa tenang, sendu namun kontemplatif. Hampir sebagian besar komposisi di album ini dipresentasikannya dengan orchestra. Seperti pada ‘Note To The Unknown’, ‘Tuesday’, atau ‘Story Of Your Life’. Meski Ondransik lebih kuat pada ballad, ia juga mampu mempresentasikan lagu-lagu yang bertempo sedang dengan nuansa yang lebih riang, keluar dari ciri khasnya yang sendu. Seperti pada ‘Above The Timberline’ atau komposisi ‘Story Of Your Life’. Sebagai penutup Ondrasik akan membuai kita dengan komposisi ‘Augie Nieto’ yang punya tekstur lembut dengan nuansa akustik. Album ini pas dinikmati dengan suasana akhir tahun yang mendung dan menemani kita merenung sebelum memasuki tahun yang baru.

Track List:

1. "Slice"

2. "Note to the Unknown Soldier"

3. "Tuesday"

4. "Chances"

5. "This Dance"

6. "Above the Timberline"
7. "Transfer"

8. "Hope"

9. "Story of Your Life"

10. "Love Can't Change the Weather"

11. "Augie Nieto"

12. "Nowhere Bar" (iTunes exclusive track)

Selasa, 19 Januari 2010

Review: Alicia Keys – The Element Of Freedom


Alicia Keys kembali lagi dengan album keempatnya, The Element Of Freedom. Kali ini dalam sebuah kesempatan wawancara Keys mengungkapkan bahwa albumnya kali ini adalah sebuah perjalanan yang akan mengejutkan para penggemarnya. Ada tekstur musik yang tidak akan pernah disangka akan dipresentasikan oleh Keys lewat albumnya. Lewat albumnya kali ini ia ingin kita terinspirasi untuk mengambil perspektif yang berbeda dan merasakan kebebasan dalam segala cara yang memungkinkan, lepas dari kungkungan dan segala keterbatasan. Menarik bukan? Jadi mari kita coba telusuri bagaimana musiknya kali ini.

Jika dikatakan ingin mencoba perspektif yang berbeda nampaknya pembukaan di album ini Keys masih memakai format yang sama dengan ketiga album sebelumnya, menggunakan intro. Perbedaannya intro kali ini tak disertai iringan musik. Dan hanya dalam hitungan detik, tak seperti intro pada ketiga album sebelumnya yang sepanjang hampir 2 menit.

Keys masih konsisten dengan sentuhan riff klasik pianonya, dipadukan iringan bass serta dentuman drum terprogram. Simak saja ‘Doesn’t Mean Anything’ atau single keduanya ‘Try Sleeping With A Broken Heart’. Single ‘Doesn't Mean Anything’ sebenarnya secara komposisi sangat sederhana, hanya berisi pengulangan notasi musik beberapa bar dalam satu bait. Tetapi hebatnya Keys mampu membuat lagu ini begitu kupinggenic, sekali terdengar langsung menempel dan menimbulkan adiksi. Begitu kental dengan nuansa kontemporer, dipadukan dengan vokal serak basah Keys, bernuansa sendu namun tetap inspiratif secara lirik namun dipadukan dentuman drum yang repetitive justru membangkitkan mood.

Komposisi lainnya yang mencuri perhatian adalah ‘Love Is Blind’. Keys berhasil terdengar begitu berbeda persis seperti apa yang dituturkannya. Lagu yang diawali dengan iringan piano sebagai intro, tetapi tekstur vokal Keys terdengar begitu berbeda. Begitu nasal. Lepas dari ciri khas vokalnya yang serak basah. Nuansa lagu ini menjadi lebih kental dengan etnik Afrika terutama pada bagian bridge setelah chorus kedua. Dan yang lebih menarik adalah Keys seakan mempertanyakan apakah cinta itu buta atau bodohkah jika mencintai tanpa melihat kekurangan. Jika didengarkan seakan Keys bukan hanya menyanyikan ‘it's too bad 'cause love is blind’ tapi ‘it’s stupid cause love is blind’.

Komposisi lain yang juga menarik untuk disimak adalah ‘Love Is My Disease’. Aransemen musiknya terdengar bernuansa Jamaican reggae. Keys juga berhasil dalam mempresentasikan lagu ini dengan memasukkan cengkok khasnya dipadukan dengan aransemen musik juga vokal bernuansa Jamaican reggae.
Keys juga mengajak Beyonce berkolaborasi dalam ‘Put It in a Love Song’. Sebuah kolaborasi yang menarik. Beyonce berhasil menancapkan teksturnya yang bertenaga dan repetitive pada gaya vokal dan musik Keys yang lebih lembut. Keys benar-benar terdengar dengan nuansa yang berbeda meski tetap tak meninggalkan ciri khasnya.

Dengarkan juga ‘Distance and Time’, Keys akan membawa kita pada pengalaman yang sendu dan manis. Coba simak liriknya.

No matter how far you are no matter how long it takes him through distance and time I'll be waiting and if you have to walk a million miles I'll wait a million days to see you smile distance and time, I'll be waiting

Eksplorasi melodius Keys pada warna musik lain tapi tetap konsisten memasukkan warna R&B, vintage soul dan jazz pada album ini memang benar-benar membuat adiksi. Yang menyenangkan adalah Alicia Keys tak pernah pelit dalam memberikan lagu dalam setiap album kepada para penggemarnya.


Track List:

Standard Edition
1. Element of Freedom (Intro)
2. Love Is Blind
3. Doesn't Mean Anything
4. Try Sleeping with a Broken Heart
5. Wait Til You See My Smile
6. That's How Strong My Love Is
7. Un-thinkable (I'm Ready)
8. Love Is My Disease
9. Like the Sea
10. Put It in a Love Song (featuring Beyoncé)
11. This Bed
12. Distance and Time
13. How It Feels to Fly
14. Empire State of Mind (Part II) Broken Down
Deluxe Editon
15. Through It All
16. Pray for Forgiveness

Senin, 18 Januari 2010

Review Album: Ladyhawke – Selftitled


Kalau dari Amerika ada Lady Gaga, maka dari negara tetangga New Zealand ada Ladyhawke. Meski warna musiknya tak sama, namun Ladyhawke memiliki musik yang layak untuk kita coba nikmati. Ladyhawke yang memiliki nama asli Phillipa Brown, memulai karir bermusiknya dengan mendirikan band Two Lane Blacktop di tempat asalnya Wellington. Setelah hijrah ke Melbourne, ia sempat bergabung bersama band bernama Teenager yang dibentuk oleh Nick Littlemore dari Empire Of The Sun. Brown sendiri memilih nama Ladyhawke karena terinspirasi tokoh Ladyhawke yang diperankan aktris Michelle Pfeiffer di film berjudul sama. Brown mengidentifikasikan dirinya sebagai wanita super dan ngepop yang menciptakan lagu-lagu yang radio-friendly dengan sekali gebrakan.
Bagaimana dengan warna musik yang diusungnya? Warna musik yang diusungnya memang bernuansa retro 80an, new wave. Album ini jika ditilik keseluruhan memang lebih terasa kental nuansa dance-nya. Sementara kalau kita menyimak perlahan tekstur musik Ladyhawke kita akan mendengarkan nuansa rock, punk, electro, dance dan power pop. Rasanya komposisi yang paling representatif untuk menikmati tekstur musik Ladyhawke adalah pada lagu ‘My Delirium’. Petikan gitar listrik serta gebukan drum yang repetitif diimbuhi dengan sentuhan synthesizer berpadu dengan interpretasi vokal Ladyhawke bergaya punk membuat single keempat dari album ini terdengar menonjol. Single inilah yang paling sukses di tangga lagu. Tak heran jika Christina Aguilera berniat menyertakan ‘My Delirium’ untuk album selanjutnya. Bagaimana dengan komposisi lainnya? Ladyhawke akan menggoyang kita dengan ‘Paris is Burning’. Komposisi ‘Paris Is Burning’ kuat dengan beat-beat yang repetitive pada bagian baitnya, sementara pada bagian refrain-nya kental dengan nuansa pop dance. Sedikit mengingatkan pada kelompok musik ‘Bananarama’ yang popular di dekade 80-an. Komposisi ini sangat kupinggenic hingga membuat kita yang mendengar ingin turut bergoyang. Komposisi yang juga nikmat untuk bergoyang adalah track pertama pada album ini, sebuah komposisi berjudul ‘Magic’. “Magic’ meski sangat kental dengan nuansa retro dance 80an tetap terasa kontemporer dan relevan untuk dengaran musik saat ini. Dinamis sekaligus membuai.
Kalau kalian menggemari musik-musik retro 80-an, album selftitled ini harus masuk dalam jajaran koleksi.


Track List:
1. Magic
2. Manipulating Woman
3. My Delirium
4. Better Than Sunday
5. Another Runaway
6. Love Don't Live Here
7. Back of the Van
8. Paris Is Burning
9. Professional Suicide
10. Dusk Till Dawn
11. Crazy World
12. Morning Dreams

Rabu, 13 Januari 2010

Review Album: Guy Sebastian – Like It Like That


Album Guy Sebastian kali ini masih tetap konsisten dengan eksplorasi retro pada nuansa soul, sedikit rock dan pop. Coba dengarkan ‘Like It Like That’ yang menjadi tembang pembuka sekaligus judul album kelima dari Guy ini. Tembang pertama ini bernuansa riang beratmosfir ala pesta cocktail di sore hari. Resapi alunan flute ditimpali dengan permainan keyboard dan lengkingan khas Guy. Dengan beat bertempo cepat serta sesekali diimbuhi brass section juga petikan gitar membuat lagu ini nikmat di telinga. Coba nikmati juga ‘All To Myself’ dan ‘Attention’ yang lebih kental dengan aroma soul. Perbedaannya adalah ‘All To Myself’ pekat dengan nuansa retro ala 60s, sementara ‘Attention’ lebih terasa kontemporer. Sayangnya duet Guy dengan Jordin Sparks dalam ‘Art Of Love’ terasa kurang gregetnya, seakan kehilangan nyawa dari Guy di album ini. Saya merasa Guy lebih total dan menyatu dalam lagu-lagu soul ketimbang pop kontemporer dengan sentuhan R&B ditambah nuansa Ryan Tedder. Komposisi ‘Art Of Love’ ini bahkan terasa dipaksakan masuk dalam deretan lagu di album ini supaya lebih terkesan relevan dengan mainstream yang sedang fashionable . Jujur saya lebih suka duet Guy dengan Tarryn Stokes dalam tembang ‘Magic’. Meski warna suara Tarryn lebih sesuai dengan folk atau country tapi duet ini terasa lebih terasa menyatu ketimbang dengan Jordin. Coba dengarkan melodinya yang ceria dan resapi bagaimana sentuhan magis dalam lagu ini. Lagu melankolis yang menjadi favorit saya adalah ‘Bring Yourself’. Di lagu ini Guy lebih terdengar bernuansa bluesy. Interpretasi Guy di lagu ini membuat saya merinding mendengarkannya. Aransemen musiknya dengan dominasi petikan rhythm guitar diimbuhi strings violin serta choir sebagai backing vocal pada bagian reffrein akhir lagu membuat lagu ini terdengar megah. Simak tembang ‘Never Be You’ yang agak sedikit mengingatkan pada ‘Let’s Stay Together’-nya Al Green. Coba resapi komposisi ‘Perfection’, alunan suara Guy terdengar lebih sederhana namun menyentuh diiringi dentingan piano yang mendominasi. Sedikit mengingatkan pada gaya Rick Price di lagu Heaven Knows. Salah satu komposisi yang mencuri perhatian adalah pada tembang ‘Undo’ yang bernuansa ala pop rock 50s dipadukan dengan sedikit aroma reggae lewat aransemen vokal Guy dipadukan dengan sorakan ala hip hop terutama pada bagian reffreinnya. Perpaduan subtil yang memikat dan yang pasti akan mengangkat mood kita yang mendengarnya. Pada ‘Coming Home’ Guy terdengar lebih bernuansa pop rock agak mengingatkan pada perpaduan antara gaya vokal Billy Joel dan Elton John. Dengarkan keseluruhan album ini dan rasakan kenikmatan dari aroma retro yang ditawarkan Guy. Dijamin kita akan ikut merasakan semaraknya gradasi musik retro lewat lagu-lagu di album ini.
Track List:
1. "Like it Like That"
2. "All to Myself"
3. "Art of Love" feat. Jordin Sparks
4. "Attention"
5. "Magic" feat. Tarryn Stokes
6. "Bring Yourself"
7. "Never Hold You Down"
8. "Fail to Mention"
9. "Never Be You"
10. "Coming Home"
11. "Undo"
12. "Perfection"

Senin, 11 Januari 2010

Review Album: Alexandra Burke – Overcome


Untuk kalian yang mungkin menggemari lagu-lagu berkarakter ballad yang powerful dengan jangkauan nada yang lebar seperti album klasik Mariah, Whitney dan Celine, dijamin pasti kalian akan menyukai album perdana dari Alexandra Burke ini.
Pemenang X Factor seri ke-5 ini memang punya warna suara yang luar biasa. Tekstur suaranya yang berat dan dalam, diimbangi dengan rentang vokal yang lebar hingga membuatnya mampu menampilkan alunan suara yang dinamis.
Lagu-lagu Alexandra ditulis oleh penulis-penulis lagu kawakan macam Martin Kierszenbaum yang membantu suksesnya Lady Gaga juga Andrea Monica Martin yang sudah menulis lagu-lagu hit untuk En Vogue hingga Leona Lewis. Selain itu Alexandra juga dibantu oleh produser top macam Red One yang sukses mengangkat Lady Gaga atau Stargate yang sukses berkolaborasi dengan Ne-Yo dan Beyonce.
Konsep album ini mencoba menawarkan nuansa eklektik dengan memadukan antara elemen kontemporer dengan retro soul seperti ‘Bury Me (6 Feet)’ atau ‘You Broke My Heart’.
Sementara pada single perdananya sendiri ‘Bad Boys’, dimana ia tampil berduet dengan Flo-Rida, nuansanya lebih kental pada pop dance dibalut dengan tekstur kontemporer rap dan sentuhan electro. Single perdana ini sangat kupinggenic, hingga langsung menimbulkan adiksi begitu mendengarnya. Chord melodi ‘Bad Boys’ sedikit mengingatkan pada pop dance pada era 80-an yang memiliki nuansa doo-wop, macam True Blue dan Uptown Girl, meski versi Alexandra terasa lebih modern. Begitu juga yang akan kita rasakan pada single keduanya ‘Broken Heels’.
Di album ini Alexandra juga mengajak Ne-Yo berduet dalam komposisi berjudul ‘Good Night Good Morning’. Tekstur lagu ini kental dengan R&B. Tapi yang membuat lagu ini terdengar nikmat di telinga adalah baik Alexandra dan Ne-yo tidak banyak berimprovisasi dengan melismatik yang meliuk-liuk. Nuansa electro dan beat yang relative cepat memang rasanya tak pas jika harus dipadukan dengan aransemen vokal yang melismatik.
Ya, di album ini memang Alexandra tak mengandalkan melismatik ala Mariah Carey. Aransemen vokalnya lebih strict pada melodi, tanpa banyak improvisasi yang cenderung show off. Menurut saya inilah keuntungan menjadi Black British ketimbang Black American, tak perlu repot dengan show off improvisasi melismatik untuk menegaskan karakter black-nya itu. Gaya vokal Alexandra lebih cenderung powerful macam Whitney dan Celine. Coba dengarkan dengan seksama Alexandra mempresentasikan komposisi ‘The Silence’, Overcome’ dan ‘Hallelujah’. Dijamin interpretasi, dinamika tekstur vokal dan rentang nada Alexandra akan membuat kita terhanyut sekaligus merinding.
Banyak kritikus musik yang mengatakan album ini kurang terasa soul blacknya, namun rasanya album Alexandra menjadi jawaban buat saya untuk tampilnya diva baru di dekade yang akan datang. Jika vokal dan interpretasi Leona seringkali terasa aneh pada lagu-lagu bertempo cepat, maka vokal Alexandra memiliki versatilitas yang mengagumkan untuk menyesuaikan dengan tempo lagu. Watch out Leona Lewis, here comes Alexandra Burke!

Track List:
1. "Bad Boys" (featuring Flo Rida)
2. "Good Night Good Morning" (featuring Ne-Yo)
3. "The Silence"
4. "All Night Long"
5. "Bury Me (6 Feet Under)"
6. "Broken Heels"
7. "Dumb"
8. "Overcome"
9. "Gotta Go"
10. "You Broke My Heart"
11. "Nothing But the Girl"
12. "They Don't Know"
13. "Hallelujah" – UK Bonus Track
14. “All Night Long” – Deluxe Edition
15. “It’s Over” – Deluxe Edition

Review Album: Gossip – Music For Men


Sejak pertama mendengar single ‘Heavy Cross’ diputar di radio saya mulai jatuh cinta dengan Gossip. Coba perhatikan liriknya yang menurut saya bermakna dalam,

It's a cruel cruel world, to face on your own, A heavy cross, to carry along, The lights are on, but everyone's gone, and it's cruel It's a funny way, to make ends meet, when the lights are out on every street, It feels alright, but never complete, without joy,

Band yang digawangi oleh Beth Ditto sebagai vokalis, gitaris Brace Paine and drumer Hannah Blilie mempunyai warna musik garage rock yang unik buat saya. Awalnya memang vocal dan gaya interpretasi Beth Ditto di ‘Heavy Cross’ sedikit mengingatkan pada Cindy Lauper di ‘Girls Just Want to Have Fun’ yang playfull. Yang membedakan Beth Ditto, yang berkulit putih, mempunyai ciri khas suara dan tarikan layaknya penyanyi soul gospel kulit hitam. Menarik sekali mendengarkan Gossip ini menggabungkan warna suara soul dari Beth Ditto dengan musik rock post punk. Yang mengejutkan buat saya album ‘Music For Men’ ini adalah album keempat dari The Gossip. Band yang telah berdiri selama satu dekade ini nampaknya lebih terkenal di kawasan Amerika Utara dan Inggris. Ketiga album sebelumnya dirilis lewat indie label ‘Kill Rock Stars’ yang membuat mereka lebih dikenal di komunitas indie. Dalam dua album pertama band ini menggunakan nama ‘The Gossip’, barulah pada album ketiga mereka merubah nama menjadi ‘Gossip’. Album kali ini adalah album studio pertama mereka dengan major label. Nuansa rock dalam album ini sangat kupinggenic, meski musiknya didominasi drum dan gitar. Beberapa komposisi di album ini langsung menjadi favorit saya selain ‘Heavy Cross’ tentunya. Misalnya ‘Dimestore Diamond’ yang mengingatkan pada Blondie di era 80-an. Coba dengarkan ‘Love Long Distance’ yang diimbuhi iringan keyboard, komposisi ini sedap di telinga. Atau ‘Pop Goes the World’ yang dipadukan dengan synthesizer hingga nikmat untuk bergoyang. Tembang lain yang juga nikmat untuk bergoyang adalah ‘Four Letter Word’ yang mengingatkan pada Depeche Mode. Gaya retro Gossip membuat saya merasa perlu memasukkan album ini dalam koleksi saya.


Track List:
1. Dimestore Diamond
2. Heavy Cross
3. 8th Wonder
4. Love Long Distance
5. Pop Goes the World
6. Vertical Rhythm
7. Men in Love
8. For Keeps
9. 2012
10. Love and Let Love
11. Four Letter Word
12. Spare Me from the Mold

Minggu, 10 Januari 2010

Review Album: Harry Connick Jr. – Your Song


Ada delapan alasan mengapa saya merasa harus memiliki album studio vokal ke-16 dari Harry Connick Jr. yang berjudul ‘Your Songs’ ini.
  1. Sebelum Michael Buble muncul di pentas musik dunia, Harry Connick. Jr. telah malang melintang dalam dunia musik selama lebih dari 30 tahun lalu sejak ia masih kanak-kanak. Dengan pengalaman mengisi soundtrack berbagai film mulai dari ‘When Harry Met Sally’, ‘The Godfather III’ hingga ‘The Mask’ dan ‘One Fine Day’. Connick Jr. sebagai pianis bahkan telah merilis 7 album instrumental sejak usia 10 di tahun 1977. Ia juga telah merilis 16 album vokal termasuk yang teranyar, ‘Your Songs’ ini.
  2. Connick Jr. telah memenangkan berbagai penghargaan satu Emmy dan tiga Grammy. Dengan latar belakang seperti dua poin ini, tidak ada alasan untuk tidak mulai mendengarkan Harry Connick Jr. dalam album ‘Your Songs’ ini.
  3. Album ‘Your Song’ ini diproduseri oleh Clive Davis yang telah malang melintang menangani album berbagai superstar musik. Davis menyatakan tertarik menangani album Connick Jr. karena mereka belum pernah bekerja sama sebelumnya. Hasil kolaborasi ini memang tidak mengecewakan.
  4. Sebagian besar lagu-lagu di album ini dipilih oleh Davis. Davis sendiri memilih lagu-lagu pop yang klasik, nge-hit pada masanya sehingga pastinya cukup kupinggenic sekaligus terasa cukup relevan dengan selera masa kini. Davis memilih lagu-lagu ciptaan penulis lagu legendaris macam Burt Bacharach, Hal David, Paul McCartney, John Lennon, Billy Joel, Charlie Chaplin, Oscar Hammerstein dan Elton John. Lagu-lagu yang sudah cukup dikenal karena hit di masa lalu.
  5. Aransemen lagu-lagu di album ini dikerjakan sendiri oleh Connick Jr. atas permintaan Clive Davis. Davis nampaknya ingin Connick Jr. lebih terasa pop cross over jazz supaya meraih pendengar dan penikmat musik lebih banyak. Dengan sentuhan Davis memang terasa lagu-lagu Connick Jr. di album ini lebih kupinggenic. Lagu-lagu pop tua yang klasik diaransemen ulang diberi sentuhan jazz, bigband hingga terasa kontemporer. Album ini bisa dikatakan album retro dengan sentuhan pop traditional dan jazz. Konsep yang menarik. Membuat lagu-lagu lama dipadukan dengan gaya musik traditional pop dan jazz hingga terdengar baru.
  6. Dalam album ini Connick Jr. dibantu oleh musisi-musisi kawakan. Antara lain duo bersaudara Marsalis, Brandford dan Wynton Learson, saksofonis dan peniup terompet yang pernah dilibatkan dalam album Sting, Shanice, Tina Turner, Diana Krall dan Norah Jones. Selain itu juga ada gitaris Bryan Sutton yang pernah membantu Dixie Chicks. Juga Roger Ingram, peniup terompet yang pernah bekerja sama dengan musisi legendaris Ray Charles. Termasuk Wayne Bergeron, peniup terompet yang pernah membantu Christina Aguilera, Avenge Sevenfold, Beyonce, Celine Dion. Bayangkan dengan musisi sekaliber itu bisa dibayangkan bagaimana menariknya album ini akan terdengar.
  7. Coba dengarkan ‘Can’t Help Falling In Love With You’ yang mungkin sudah ribuan kali dibawakan penyanyi lainnya, hingga saya meras jenuh. Tapi Connick Jr. Sukses memberikan nyawa baru kepada lagu ini hingga saya jatuh cinta kembali dengan tembang ini. Apalagi dengan solo terompet Wynton Marsalis. Duh lagu ini jadi begitu manis di telinga. Atau nikmati saja ‘Your Song’ yang lebih sederhana dengan iringan piano, sungguh berbeda dengan versi Elton John. Connick Jr. berhasil memberikan nyawa baru dengan interpretasi dan warna vokalnya pada lagu-lagu lama ini hingga terasa baru, dengan manis yang pas tapi tidak monoton.
  8. Harry Connick Jr. meski termasuk dalam kategori musisi lama tapi berhasil mereinventasikan musiknya menjadi lebih segar lewat album ini. Sebuah alternatif dengaran baru di tengah dominasi Buble di kancah pop. Jadi sungguh terlalu jika kalian melewatkan album ini begitu saja.

Review Album: Angela Aki – Answer


Angela Aki yang memiliki nama asli Aki Kiyomi adalah musisi blasteran berdarah Jepang, Italia, Amerika. Lulusan ilmu politik dari George Washington University ini mulai terinspirasi untuk merintis karir bermusik sejak menyaksikan konser Sarah Mclachlan saat masih berusia 20 tahun. Awal millennium ini Angela, yang mahir bermain piano ini, sempat merilis album indienya yang bertajuk ‘These Words’ di Amerika Serikat. Tahun 2003, sesaat setelah kembali bermukim di Jepang ia menyaksikan konser musik Shiina Ringo di Nippon Budokan Hall. Angela bertekad dalam waktu 3 tahun ia harus bisa tampil di tempat yang sama. Jadi Angela kemudian tampil di berbagai tempat dan bar di Tokyo, menulis seratusan lagu, dan merekam beberapa demo. Hingga akhirnya tahun 2005 ia merilis album indienya yang kedua ‘One’. Album tersebut segera saja menjadi album indie nomor satu di Jepang saat itu. Kesuksesan album ‘One’ menarik perhatian Nobuo Uematsu yang kemudian meminta Angela untuk menuliskan lirik dan tampil untuk pertunjukan lagu tema Final Fantasy XII di tahun 2006. Di tahun yang sama Angela dikontrak oleh Tofu Records untuk memproduksi single dan album.
Answer adalah album studio ketiga Angela di bawah label Sony. Album yang berisi 13 lagu. Komposisi pertama yang berjudul ‘Letter – Greetings to 15 Year Old Boy’ segera menjadi lagu yang popular diantara siswa-siswa di Jepang. Lagu tersebut diajarkan di sekolah sebagai lagu contoh proyek kampanye anti bullying dalam sekolah-sekolah di Jepang. Lagu ini sebenarnya adalah cover version dalam versi bahasa Jepang dari lagu Ben Folds yang berjudul ‘Still Fighting It’. ‘Still Fighting It’ sendiri diciptakan Ben Folds untuk anak lelakinya, Louis, yang mengalami kesulitan akibat bullying pada masa remaja. Ben Folds yang mendengar proyek Angela ini, segera berusaha untuk menghubungi Angela. Hasilnya adalah kolaborasi mereka berdua dalam lagu ‘Black Glasses’ yang juga dimasukkan dalam album ini. Sebuah lagu bernuansa riang dalam aransemen yang sederhana.
Selain itu di album ini Angela juga melakukan cover version lagu klasik ‘We’re All Alone’ karya dari Boz Scaggs, seorang penyanyi, gitaris dan penulis lagu. Lagu ini sudah sering dibawakan oleh penyanyi lain. Yang membuat berbeda adalah Angela membuat cover version lagu ini dengan memadukan antara lirik berbahasa Jepang dan Inggris. Selain itu Angela juga membawakan ulang ‘Knockin on Heaven’s Door’ karya Bob Dylan. Ia juga memadukan antara lirik berbahasa Inggris dan Jepang di dalam lagu ini.
Bagaimana dengan musik di album ini? Album ini bisa dikatakan album pop dengan komposisi yang cukup kupinggenic namun tidak standar. Coba dengarkan alunan piano yang manis dan sederhana pada ‘Letter~ Greetings to a 15 Year Old Boy’, membuat suara tipis Angela menjadi menonjol. Begitu manis di telinga. Sementara pada ‘Knockin’ On Heaven’s Door’ Angela menunjukkan vokal yang lebih bertenaga. Musik-musiknya memang didominasi dengan alunan piano. Tetapi Angela menunjukkan versatilitasnya dengan memasukkan genre lainnya selain pop minimalis, seperti rock pada tembang berjudul ‘Answer’. Sementara pada ‘Our Story’ Angela memasukkan unsur jazz. Pada ‘Reflection’ Angela memasukkan beat reggae ke dalam komposisi pop. Coba dengarkan ‘Twilite Evening’ yang menjadi salah satu tembang balada favorit saya di album ini. Album ‘Answer’ sungguh sayang kalau tidak dimasukkan dalam salah satu koleksi Anda.

Track List:
1. Letter~ Greetings to a 15 Year Old Boy
2. Knockin' on Heaven's Door
3. Answer
4. Somebody Stop Me
5. Dahlia
6. Final Destination
7. Our Story
8. Twilite Evening
9. We're All Alone
10. Reflection
11. Requiem
12. Black Glasses (In Collaboration with Ben Folds)
13. Fighter

Kamis, 07 Januari 2010

Review Album: David Gray – Draw The Line


Bulan September lalu David Gray merilis album studionya yang ke-8, ‘Draw The Line’. Album pertama yang diproduksinya selepas bercerai dengan anggota bandnya yang lama. Di album ini Gray dibantu oleh personel-personel yang baru meski masih dibantu produser Rob Malone yang selalu membantu Gray di album-album sebelumnya. Gray sendiri mengatakan kalau album ini sebagai penanda, akhir sebuah era dan awal era yang baru, sekaligus untuk menegaskan untuk tidak coba-coba melintas batas sebab sudah ada garis tegas pemisah. Mungkin yang dimaksudnya adalah untuk musiknya. Album ini berisikan sebelas lagu baru yang semuanya ditulis oleh Gray sendiri dibantu oleh Malone dan Rob MacColl, gitaris dalam band pendukung Gray yang baru.
Gray juga mengajak Annie Lennox berkolaborasi dalam komposisi berjudul ‘Full Steam’. Lagu ini sendiri digambarkan oleh Lennox memiliki pesan politik yang luas. Duet Gray dan Lennox terasa menyatu hingga membuat lagu ini menjadi favorit saya.
Selain Lennox sebenarnya Gray mengajak Dolly Parton untuk berduet dalam lagu ‘Kathleen’. Sayang sekali Parton menolak karena alasan kesibukan jadwalnya. Sebagai gantinya Gray mengajak Jollie Holland sebagai gantinya. Jollie Holland adalah salah satu musisi folk country jazz asal Texas.
Gray sendiri masih setia membawakan nuansa folk rock. Gray berhasil memasukkan vokalnya yang soulful dan lirik yang penuh muatan emosi ke dalam album ini hingga menjadi terasa rock melankolis yang lembut. Saya sendiri menyukai hampir seluruh komposisi di album ini. Coba dengarkan track pertama yang menjadi debut single album ini ‘Fugitive’. Begitu nikmat untuk didengarkan hingga menjadi pengobat rindu bagi penggemar Gray akan karyanya yang baru. Fugitive sendiri menurut Gray terinspirasi dari gambar Sadam Hussein yang ditarik keluar dari lubang persembunyiannya. Sementara komposisi ‘Nemesis’ memiliki lirik yang bisa dikatakan mewakili warna emosi , coba perhatikan:

I am the photograph you found in your burned down house I am the smell you're trying to wash out of your hair.

Sementara pada ‘Stella The Artist’ Gray terdengar lebih ceria dengan tempo yang upbeat. Komposisi ‘Breathe’ dengan solo gitar yang mendominasi terdengar sangat dinamis. Kalau menyukai rock, album ‘Draw The Line’ ini harus masuk dalam koleksi.

Track List:
1. Fugitive
2. Draw the Line
3. Nemesis
4. Jackdaw
5. Kathleen" (featuring Jolie Holland)
6. First Chance
7. Harder
8. Transformation
9. Stella the Artist
10. Breathe
11. Full Steam (featuring Annie Lennox)

Review Album: Zee Avi – Selftitled


Pertama kali mendengar nama Zee Avi adalah dari membaca suggestion di Facebook karena salah seorang teman menjadi penggemarnya. Saya sendiri belum menaruh perhatian sampai Zee Avi muncul dalam tayangan iklan Channel [V] AMP, sebuah acara televisi yang berisikan musisi-musisi asal Asia. Sejak itu saya menjadi agak penasaran dengan musik dari musisi kelahiran Malaysia ini. Darah seni Zee mengalir dari Kakek pihak Ayah yang adalah pemain band sekaligus penyanyi. Dengan kemampuannya memainkan instrument seperti gitar dan ukulele serta menciptakan lagu, rasanya layak jika Zee mendapatkan spotlight.
Keberuntungan Zee adalah kisah sukses era internet saat ini. Zee menjadi e-librity sejak ia memasukkan video pertunjukkannya ke Youtube agar temannya dapat ikut menyaksikan. Sejak itulah Zee mulai dikenal pengguna internet dari seluruh dunia, hingga akhirnya Zee mendapatkan tawaran rekaman dari Ian Montone. Hingga akhirnya album Zee dirilis dibawah produksi bersama label Ian Montone, Monotone Label dengan label Jack Johnson Brushfire Record.
Musik Zee sendiri bernuansa pop folk akustik dengan sedikit sentuhan jazz, didominasi dengan iringan gitar.Terdengar minimalis dengan lirik-lirik yang gelap, musik Zee memang bukan musik yang bisa dikategorikan kupinggenic. Agak monoton buat mereka yang lebih suka musik pop yang lebih dinamis. Tetapi jika kita sudah terbiasa musik Zee ini nikmat untuk didengarkan. Zee mengakui gaya bermusiknya dipengaruhi oleh Regina Spektor, Leonard Cohen hingga Billie Holiday. Zee mengakui menyukai gaya lirik dari musik klasik jazz yang cenderung lugas dalam bertutur. Coba perhatikan lirik dari komposisi ‘Bitter Heart’ ini:

Bitter heart, bitter heart tries to keep it all inside Bitter heart, bitter heart shadows will help you try to hide Bitter heart my bitter heart is getting just a little fragile Bitter heart bitter heart of mine And then you come and tell me the same reason that you did yesterday so tell me what’s her name

Mungkin jika diperhatikan kelembutan musik Zee Avi ini mengingatkan pada Norah Jones, hanya versi gitaris.

Track List:
1. Bitter Heart
2. Poppy
3. Honey Bee
4. Just You And Me
5. Is This The End
6. Monte
7. Kantoi
8. I Am Me Once More
9. First of the Gang
10. Darlin’ It Ain’t Easy
11. The Story
12. Let Me In

Rabu, 06 Januari 2010

Review Album: Melanie Fiona – The Bridge


Satu lagi solois wanita berbakat asal Kanada meramaikan dunia musik dengan warna yang memang sepertinya tidak bisa dibilang baru, karena sudah ada nama besar Amy Winehouse dan Duffy. Setidaknya saya merasa Melanie membawa angin segar di tengah kejenuhan terhadap Wino dan Duffy. Mungkin disebabkan akar musik reggae Guyana yang dibawa kedua orang tuanya yang adalah imigran asal Guyana.

Selain itu sentuhan dan cengkok yang berbeda dari Melanie membuatnya sedikit menonjol di tengah sepinya persaingan soul singer tahun ini. Melanie sendiri mengaku rasa musiknya dipengaruhi oleh musik yang diputar sang Ibu, mulai dari The Ronettes, Bob Marley sampai Whitney Houston dan Sade. Sementara kemampuan panggungnya diperoleh lewat sang Ayah yang memberinya kesempatan untuk manggung.

Video klipnya ‘Bang Bang’ tengah lalu lalang di Channel [V]. Yang membuat Melanie menonjol adalah kemampuannya menulis lagu ditunjang oleh kolaborasi dengan Andrea Martin yang telah menghasilkan hit ‘Better In Time’-nya Leona Lewis dan sejumlah penyanyi kulit hitam lainnya. Debut album Melanie ini juga didukung oleh produser macam Vada Nobles yang pernah menangani Rihanna, Stereotypes yang sukses dengan Danity Kane, TI, Mary J. Blige juga Future Cut yang sukses menangani Natasha Beddingfield dan Sugababes.

Album ini menurut Melanie sendiri diberi judul ‘The Bridge’ karena musiknya yang menjembatani perbedaan etnik, genre, kelompok umur dan jenis kelamin.

Menurut saya sendiri album ini sangat kental nuansa retronya. Kita akan menemukan berbagai cita rasa musik. Perpaduan rasa retro antara klasik soul, rock n roll 60s, sedikit reggae dan latin serta sentuhan pop yang lebih kontemporer. Melanie akan menceriakan hari kita dengan lagu-lagu yang sebagian besar memiliki beat yang mid dan up tempo. Seperti pada ‘Give It To Me Right’, ‘Bang Bang’ atau ‘Johnny’. Tetapi lewat lagu yang lebih down tempo macam ‘It Kills Me’ atau “Teach Him’, Melanie membuktikan kalau dirinya adalah penyanyi yang mampu mempresentasikan lagu-lagu seperti itu dengan interpretasi yang baik. Meski sebagian besar isinya didominasi lagu-lagu upbeat yang ceria, album ini tidak terasa membosankan. Dinamika antara klasik soul, retro rock n roll, reggae dan latin membuat “The Bridge’ layak untuk dikoleksi.

Track List:
1. "Give It to Me Right" – 3:43
2. "Bang Bang" - 3:28
3. "Monday Morning" - 3:38
4. "Please Don’t Go (Cry Baby)" - 3:15
5. "Ay Yo" - 3:18
6. "Walk On By" - 3:31
7. "You Stop My Heart" - 3:46
8. "Johnny" - 3:42
9. "Sad Songs" - 4:38
10. "Priceless" - 3:47
11. "It Kills Me" - 4:10
12. "Teach Him" - 4:10

Review Album: Mika – The Boy Who Knew Too Much


Sejak tahun 2007 mengenal musik Mika rasanya saya langsung jatuh cinta dengan musiknya yang ceria dan playfull. Melodi dan interpretasi Mika rasanya saat ini sulit ditandingi oleh musisi lainnya. Gaya bernyanyi Mika yang mengandalkan teknik falsetto tidak mudah untuk diimitasi artis musisi lainnya. September ini Mika merilis album keduanya, The Boy Who Knew Too Much. Meski single perdananya ‘We Are Golden’ masih terlalu mirip dengan lagu-lagu di album pertamanya, rasanya cukup menghibur setelah penantian selama hampir dua tahun. Dalam album ini lagu-lagu yang ditulis sebagian besar oleh Mika sendiri, dengan bantuan Jodi Marr yang juga pernah membantu menulis ‘Grace Kelly’, Walter Afanasieff yang pernah sukses menulis lagu dengan Mariah Carey, juga Rob Davis yang pernah menulis ‘Can’t Get You Out Of My Head’ untuk Kylie Minogue, serta peraih nominasi Grammy, Imogen Heap. Mika sendiri masih dibantu oleh produser musik, Greg Wells, seorang peraih nominasi Grammy juga, yang pernah membantu Mika dalam album perdananya, Katy Perry, Jamie Cullum, dll.
Dilihat dari daftar pendukung Mika ini tentu saja terbersit harapan yang tinggi terhadap karya Mika kali ini. Mika sendiri melukiskan albumnya kali ini bertemakan kenangan masa remaja, dan semacam lanjutan dari album pertamanya serta bernuansa gelap seperti alam gothic hasil fantasi Tim Burton.
Lantas bagaimana saya menilai album ini? Menarik, kupinggenic, sekaligus menyentuh secara melodi maupun lirik. Mendengarkan album ini bagaikan dibawa dalam sebuah pengalaman taman bermain musik. Ada sedikit unsur-unsur vintage seperti pada komposisi ‘Toy Boy’, ‘One foot Boy’ dan ‘Dr. John’ atau ‘Pick Up Off The Floor’ yang sedikit jazzy tunes. Meski secara lirik agak gelap, tapi Mika berhasil membawa kelugasan dalam bertutur. Coba dengarkan ‘Blame It On Girls’ yang ceria. Perhatikan liriknya.

He's got looks that books take pages to tell
He's got a face to make you fall on your knees

He's got money in the bank to thank
and i guess You could think he's livin' at ease

Like lovers on the open shore
what's the matter?

When you're sitting there with so much more
what's the matter?

While you're wondering what the hell to be.
Are you wishing you were ugly like me?

Blame it on the girls who know what to do

Blame it on the boys who keep hitting on you

Blame it on your mother for the things she said

Blame it on your father but you know he's dead


Nikmati juga ‘Dr. John’ yang bernuansa vintage ala The Beatles. Yang menarik dari album ini adalah Mika mampu mengangkat hal yang menyebalkan menjadi lebih menarik misalnya dalam komposisi ‘Rain’ yang up beat. ‘Rain’ langsung menjadi favorit saya. Begitu juga komposisi ballad ‘I See You’ yang dibawakan dengan orkestra yang terkesan megah ditambah strings arrangement yang menyayat sekaligus membuat lagu ini terkesan benar-benar menyayat hati. Komposisi ballad yang juga menarik perhatian saya adalah ‘By The Time’ yang ditulis Mika bersama Imogen Heap. Secara lirik maupun musikal benar-benar menyentuh. Over all memang album ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Track List:
1. We Are Golden
2. Blame It on the Girls
3. Rain
4. Dr John
5. I See You
6. Blue Eyes
7. Good Gone Girl
8. Touches You
9. By the Time
10. One Foot Boy
11. Toy Boy
12. Pick Up Off the Floor

Selasa, 05 Januari 2010

Review Album: Do You Want The Truth Or Something Beutiful - Paloma Faith



Aktris asal Inggris ini memang memiliki warna suara dan gaya bernyanyi yang sering dibandingkan atau lebih tepatnya dikatakan mirip dengan Amy Winehouse dan Duffy. Tetapi buat saya Paloma, yang berarti Merpati, memiliki sesuatu yang baru. Setidaknya saya merasa Paloma membawa angin segar di tengah kejenuhan terhadap Wino dan Duffy. Musik Paloma memang terasa perpaduan antara soul, pop dengan vocal dan gaya Paloma lebih nge-rock. Didukung oleh orkestra atau big band, sebagian besar lagu-lagu di album ini memang kompleks. Lebih condong ke adult contemporary. Pop ballad yang ditawarkan Paloma ini memiliki bobot ballad yang memikat. Coba simak ‘Stone Cold Sober’ yang menjadi debut single album ini atau ‘Broken Dolls’. Dengarkan juga ‘Do You Want The Truth Or Something Beautiful’ atau ‘Play On’ yang lebih kental nuansa baladanya, vocal Paloma terdengar menyayat dalam kelembutan. Sementara komposisi ‘Upside Down’ terdengar lebih swinging, begitu sedap untuk bergoyang. Coba simak juga ‘New York’ yang menjadi single kedua album ini, yang bertutur tentang seorang gadis yang kehilangan kekasihnya direbut seorang lady. Melodinya begitu membius dan memikat. Interpretasi vocal Paloma terdengar begitu berpadu dengan alunan backing vocal dari Souls of Prophecy Gospel Choir hingga membuat lagu ini terdengar megah. Sementara ‘Stargazer’sendiri terasa minimalis, pahit sekaligus manis.
Album Paloma ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja dari daftar koleksi saya.

Track List:
1. Stone Cold Sober
2. Smoke & Mirrors
3. Broken Doll
4. Do You Want the Truth or Something Beautiful?
5. Upside Down
6. Romance Is Dead
7. New York
8. Stargazer
9. My Legs Are Weak
10. Play On

Kamis, 15 Oktober 2009

Review Album: MATT KEARNEY - CITY OF BLACK AND WHITE


Tak ada kata terlambat untuk mengenal Mat Kearney. Lagu-lagu Kearney seringkali digunakan untuk menjadi musik latar untuk berbagai serial top di Amerika sana. Mulai dari Grey’s Anatomy, The Hills, Laguna Beach, Kyle XY, hingga Bones dan Friday Night Lights. Lagu-lagu Mat Kearney memang nikmat membuai telinga. Perpaduan yang pas antara pop, country dan rock membuat saya langsung kecanduan mendengarkan album ini. Apalagi warna suara dan interpretasi Kearney nikmat didengar. Segalanya terdengar pas secara sempurna. Bukan pas-pasan. Tapi pas, tepat secara musikal. Tak heran jika lagu-lagunya sering digunakan sebagai musik latar serial TV. Rasa-rasanya lirik dan melodi yang ditulis Kearney memang cocok untuk menggambarkan suasana hati yang ingin dicapai serial-serial tersebut. Jadi jangan heran jika mendengarkan album ini, kita akan dibius oleh alunan musik Kearney. Dan segera kita akan dibawa untuk mengidentifikasikan kisah hidup dan cinta kita sesuai dengan lagu-lagu Kearney. Musik dan liriknya bisa sedemikian menyentuh. Coba dengarkan ‘Closer To Love’, ‘Never Be Ready’ dan ‘Lifeline’, dijamin langsung hati ini terharu biru. Coba perhatikan lirik ‘Lifeline’ berikut ini:

You’re watching everything you ever held on to
Slip away from you
And all you’re running from well it’s catching up to you
Got you looking for a lifeline
Swimming in the high tide
Waiting for the daylight
To bring you home

Mendengarkan Kearney dalam album ini seperti mendengarkan kisah hidup dari Kearney sendiri. Seakan-akan kita dibawanya begitu dekat dengan kenyataan hidup, cinta dan harapan. Album ini adalah sebuah keharusan untuk dikoleksi.
PS:thx2Kyle

Track List:
1. All I Have
2. Fire & Rain
3. Closer to Love
4. Here We Go
5. Lifeline
6. New York to California
7. Runaway Car
8. Never Be Ready
9. Annie
10. Straight Away
11. On and On
12. City of Black & White

courtesy of www.creativedisc.com

Review Album: ANJULIE- ANJULIE


Album Anjulie ini sedikit mengingatkan pada Lisa Stansfield pada awal-awal karirnya. Musik Anjulie yang pop dengan sentuhan soul juga jazzy tune. Anjulie menurut saya muncul di saat tepat dengan warna musik yang jika diperhatikan setiap komposisinya mempunyai materi yang dalam. Eksplorasi Anjulie sebagai keturunan Kanada - Guyana membuat dirinya tidak terjebak dalam gaya menyanyi melesma yang penuh dengan liukan vocal. Coba dengarkan ‘Crazy That Way’ dan ‘Colombia’ yang minimalis dan manis. Begitu sederhana tapi juga menyentuh. Komposisi macam ‘Boom’, ‘Rain’, dan ‘Some Dumb Girl’ dipenuhi dengan sentuhan brass section yang catchy dan perkusi yang membuat lagu-lagu tersebut nikmat untuk bergoyang. Warna vocal Anjulie sendiri sebenarnya bukan yang indah dan powerful macam diva, tapi Anjulie memiliki interpretasi sendiri dan pandai menulis lagu yang tepat untuk timbre suaranya. Kalau diperhatikan memang warna suara dan gaya bernyanyi Anjulie mirip dengan Corrine Bailey Rae. Tetapi untunglah Anjulie membawakan warna musik yang berbeda. Anjulie berhasil membuat warna suaranya lebih seksi dan menggoda. Albumnya ini pun mendapat pujian dari kritikus musik di berbagai media di Amerika Utara. Anjulie adalah talenta baru yang menjanjikan. Single perdananya ‘Boom’ berhasil mencapai posisi no. 1 pada US Hot Dance Club Play. Saya sendiri menganjurkan kalian untuk mendengarkan ‘Fatal Attraction’ yang begitu catchy. Atau ‘The Heat’yang begitu nikmatnya dengan beat-beat reggae dengan interpretasi feminin yang baru, begitu adiktif. Atau ‘Colombia’ yang kental dengan sentuhan sway. Anjulie adalah album yang harus Anda miliki.
PS: thx2Kyle

Track List:
1. Boom
2. Rain
3. Some Dumb Girl
4. Addicted2me
5. Crazy That Way – Interlude
6. Crazy That Way
7. Fatal Attraction
8. The Heat
9. Colombia
10. Same Damn Thing
11. I Want The World To Know
12. Love Songs
13. Day Will Come Soon
14. Jamba


courtesy of: www.creativedisc.com

Sabtu, 10 Oktober 2009

Review Album: Round 2 - J. Holiday



Ada 7 alasan kenapa saya merasa harus memiliki album ‘Round 2’ ini:
  • Alternatif baru dari dominasi Ne-Yo dalam ranah R&B. Sejak kemunculan album pertamanya, ‘Back of My Lac ‘, saya sudah tertarik dengan J. Holiday, mengingat gaya tampilannya lebih mirip musisi hip-hop ketimbang R&B yg lebih flamboyant, seperti Ne-Yo. Dominasi Ne-Yo dalam chart dan playlist radio saat ini buat saya begitu menjenuhkan. Itu sebabnya J. Holiday membawa suara yang lebih segar buat saya.
  • Mendengarkan J. Holiday seakan mengenang kembali masa-masa kejayaan Babyface di dekade 90an. Bedanya J.Holiday terasa lebih segar, lebih relevan dengan R&B kontemporer saat ini.
  • Interpretasi dan timbre vocal J. Holiday yang pas untuk lagu-lagu R&B kontemporer saat ini. Meski sepintas terdengar seperti Mario dan Ne-Yo, tapi J. Holiday memiliki warna tersendiri yang langsung dapat dikenali.
  • Didukung oleh produser macam The Dream, yang bersama Tricky berhasil membawa Rihanna sukses dengan ‘Umbrella’. Berdua mereka pernah dinominasikan untuk Grammy. Ada produser Jasper Cameron yang sukses mengubah image Christina Aguilera lebih nakal dalam ‘Stripped’ juga membantu Ciara dalam album teranyarnya, ‘Fantasy Ride’. Dengan sentuhan tangan dingin mereka, album ‘Round 2’ memang terasa lebih nikmat untuk didengarkan.
  • J Holiday menyanyikan sekumpulan lagu yang kental dengan sentuhan R&B yang romantis. Sangat pas untuk kalian yang sedang mencari musik-musik cinta yang baru. Dengarkan ‘Run Into My Arms’ yang manis, atau ‘Make That Sound’ yang lebih megah. J. Holiday memanjakan telinga saya. Komposisi-komposisi di album ini sungguh cocok untuk didengarkan saat makan malam berdua ditemani temaram cahaya lilin atau menemani saat-saat bercinta di kamar.
  • Coba perhatikan lirik ‘Fly’ yang manis dengan aransemen yang melodius membius dijamin kalian akan jatuh cinta dengan lagu ini.

Lord knows I wanna keep you, life without you I just can't see it. But sometimes you gotta let love be what it's gonna be. I'm a let you fly and pray you come back to me cause I do believe. If I let you fly then you fly back, then it was meant to be. So fly, fly, fly, fly.

Dan itu bukanlah satu-satunya lirik romantis dalam album J. Holiday ini.
  • Album ini diwarnai dengan beberapa sentuhan aroma musik, selain hip-hop tentunya. Pada ‘Intro’ J. Holiday berhasil membuktikan penyanyi yang mampu membawakan nuansa jazz. Sedangkan pada komposisi ‘I Tried’, raungan gitar listriknya dipadukan dengan gaya bernyanyi J.Holiday yang black, membuat lagu tersebut menjadi komposisi R&B yang ngerock.
  • Sungguh terlalu jika menjadikan J. Holiday sebagai underdog yang berada under your music radar. Album ini begitu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Penggemar R&B sejati pasti akan menjadikan album Round 2 J. Holiday ini sebagai bagian dari koleksinya.

Track List
1. Intro
2. It's Yours
3. Fall
4. Don't Go
5. Wrong Lover featuring Rick Ross
6. Run into My Arms
7. Sing 2 U
8. Lights Go Out
9. Make That Sound
10. Forever Ain't Enough
11. Fly
12. Homeless
13. I Tried:

Minggu, 26 Juli 2009

JAZMINE SULLIVAN - FEARLESS



Mendengarkan Jazmine Sullivan bernyanyi seperti menggabungkan antara Alicia Keys, Eve, dengan Lauryn Hill. Pada single pertamanya Need You Bad terasa kental sentuhan reggaenya. Single yang diproduseri oleh dan juga berduet dengan Missy Elliott ini yang berhasil mencapai puncak Hot R&B/HipHop Billboard. Sementara pada single kedua Bust Your Windows terasa sekali nuansa retronya. Sedikit mengingatkan pada gaya Lauryn Hill. Pada singlenya yang kedua ini Jazmine dibantu oleh Salaam Remi yang membantu Amy Winehouse dalam album Back To Black. Dengan orkestrasi yang apik dipadu dengan vocal Jazmine yang khas dan sentuhan soul yang kental, single ini berhasil mencuri hati saya. Liriknya pun cukup catchy. Single ini terasa sekali nuansa Motown yang sempat kuat sepanjang 2007-2008 lalu. Single ketiga Lions, Tigers, & Bears juga terasa begitu kental dengan nuansa retro 60-70snya. Dalam single yang ditulis Jazmine dengan W. Mann ini disertakan sampling dari Salaam Remi Sheila’s Playground. Kekentalan nuansa retro 60-70s juga terasa pada track My Foolish Heart, One Night Stand, Live A Lie, In Love with Another Man, dan Switch. Tetapi yang membedakan Jazmine dengan Amy Winehouse dan Duffy adalah kekentalan R&B pada musik Jazmine. Apalagi Jazmine sukses memberikan sentuhan modern hiphop. Sentuhan itu sangat terasa pada komposisi seperti Call Me Guilty, After the Hurricane, Dream Big, Fear, Best Of Me. Mendengarkan album Fearless ini seperti mendengarkan sebuah perpustakaan musik hitam Amerika dengan rentang periode lebar yang disusun dengan apik. Sebuah album yang sangat artistik sehingga rasanya layak jika Jazmine berhasil menempatkan dirinya masuk dalam 5 nominasi Grammy tahun 2009 ini dalam kategori Best New Artist, Best Female R&B Vocal Performance, Best R&B Contemporary Album, Best R&B Song, dan Best Traditional R&B Vocal Performance.

Tracklist:
1. Bust Your Windows
2. Need You Bad
3. My Foolish Heart
4. Lions, Tigers, & Bears
5. Call Me Guilty
6. One Night Stand
7. After The Hurricane
8. Dream Big
9. Live A Lie
10. Fear
11. In Love With Another Man
12. Switch
13. Best Of Me


Review ini dimuat dalam www.creativedisc.com


Kanye West 808's & Heartbreak


Mendengarkan Kanye West di album ini bisa dikatakan, untuk pertama kalinya mendengarkan Kanye West lebih bernuansa melodius ketimbang ritmis. Namun bukan berarti bagi fans berat KW album ini terasa aneh. Setidaknya menurut saya album ini masih beatable mengingat gaya bernyanyi KW sendiri yang beatable krn pengulangan2 melodi secara ritmis. Album ini sangat memanjakan telinga kita pecinta musik dengan segala eksplorasinya. Sebagai seorang yang cukup disegani karena bakatnya dalam menulis lagu hip hop, KW tampaknya berusaha mengeksplorasi intelektual musikalnya dalam album ini. Rasanya album ini diluncurkan pada saat yang tepat, saat aliran musik mainstream sudah beralih lebih ke melodius ketimbang ritmis. KW menawarkan komposisi perpaduan ritmis yang menjadi ciri khasnya dengan bunyi-bunyian musik dengan sesuatu yang baru yaitu sisi melodiusnya KW dengan nyanyiannya serta kekuatan liriknya yang bercerita. Lagu-lagu yang ditawarkan menawarkan perpaduan antara R&B dengan sentuhan electro dan hip hop. Uniknya KW berhasil mengangkat ritme musik yang lebih klasik ala etnis Afrika dengan ritme electro yang lebih modern ala Eropa seperti yang terasa pada ‘Love Lockdown’. Komposisi yang menjadi pembuka dalam album ini adalah ‘Say You Will’ yang buat saya sangat kupinggenic tanpa terdengar standar karena ramuan bunyi yang menarik. Selain itu beberapa aransemen lain yang menjadi favorit saya adalah ‘Welcome To Heartbreak’, ‘Street Lights’, ‘RoboCop’, ‘Coldest Dream’. ‘RoboCop’ beraroma 80-an dengan perpaduan new age dengan sedikit sentuhan pop serta kekuatan R&B KW. Alunan komposisi strings dalam ‘Robocop’ sedikit mengingatkan pada single Madonna ‘Jesse’s Dream’. Sedangkan track lain yang menawarkan kekuatan rap KW adalah ‘Paranoid’, ‘Welcome to Heartbreak’. Dalam ‘Paranoid’ terasa racikan synthesizer yang belakangan menjadi trend kembali dalam scene dance music, agak mengingatkan pada Lady Gaga. ‘Coldest Winter’ sedikit bernuansa retro new age electro dance ala Depeche Mode tahun 80an.
Album 808’s and Heartbreaks ini dengan kekayaan nuansa bunyi dan komposisi yang melodius berhasil membuat saya mengalami love at a first hearing.

Track List:
1. Say You Will
2. Welcome To Heartbreak feat. Kid Cudi
3. Heartless
4. Amazing feat. Young Jeezy
5. Love Lockdown
6. Paranoid feat. Mr. Hudson
7. RoboCop
8. Street Lights
9. Bad News
10. See You In My Knightmares feat Lil Wayne
11. Coldest Winter
12. Pinocchio Story (Freestyle Live from Singapore)


LEON JACKSON - RIGHT NOW




Leon Jackson pemenang X-Factor tahun 2007 ini menurut saya memiliki warna suara yang lebih menonjol dibandingkan Michael Buble yang lebih dulu punya nama besar. Album ini memang bisa dibilang punya nuansa yang mirip dengan genrenya Buble, pop adult contemporary, jazz. Sangat kupinggenic, cepat akrab di telinga dan mudah dicerna.
Mungkin kelebihan Leon lainnya adalah ia mampu memberikan alternative di tengah-tengah monopoli dan dominasi Buble setelah Harry Connick, Jr lebih masuk ke dalam genre jazz yang kental. Komposisi pada album ini sebagian besar diisi dengan musik orkestrasi dan big band. Ada banyak warna yang ditawarkan oleh Leon dalam album ini. Terasa sekali nuansa retro eklektiknya. Pada single pertama album ini, ‘Don’t Call This Love’, terasa sekali pop adult contemporarynya. Begitu juga pada komposisi ‘Stargazing’, ‘You Don’t Know Me’, ‘Ordinary Days’, ‘A Song For You’, ‘Fingerprints’. Sedangkan pada komposisi ‘Creative’, Leon mencoba bermain-main dengan irama sway. Sedangkan nuansa pop jazz terasa pada komposisi ‘All In Good Time’, ‘Right Now’ yang berwarna ceria dengan tempo upbeat, ‘Could Do Better’ yang bertempo middle. Pada ‘Misty Blue’, Leon mencoba menambahkan sentuhan blues dengan solo petikan gitar dan bass pada bagian awal lagu. Lagu ini salah satu favorit saya. Minimalis tetapi menyentuh secara melodi maupun lirik. Sedangkan sentuhan nuansa folk ringan terdengar pada komposisi ‘Caledonia’. Secara keseluruhan album “Right Now” ini layak untuk menjadi koleksi. Komposisi musik yang ditawarkan Leon Jackson pasti akan membuat telinga serasa dimanja dalam keindahan yang melodius.

Tracklist:
1. Don’t Call This Love
2. Creative
3. Stargazing
4. All In Good Time
5. Right Now
6. You Don’t Know Me
7. Ordinary Days
8. A Song For You
9. Finger Prints
10. Could Do Better
11. Misty Blue
12. Caledonia
13. When you Believe